Ekonom: Rekor pelemahan rupiah jadi sinyal himpitan ganda ekonomi RI
Ekonom: Rekor pelemahan rupiah jadi sinyal himpitan ganda ekonomi RI

Ekonom: Rekor pelemahan rupiah jadi sinyal himpitan ganda ekonomi RI

LintasWarganet.com – 29 Mei 2026 | Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menyoroti bahwa nilai tukar rupiah terus mencetak rekor terlemahnya dalam beberapa bulan terakhir. Menurutnya, penurunan ini bukan sekadar gejala pasar valuta asing, melainkan pertanda adanya tekanan ganda yang mengancam stabilitas ekonomi Indonesia.

Rupiah yang berada di level terendah terhadap dolar AS sejak krisis finansial 1998 menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha dan investor. Penurunan nilai tukar meningkatkan biaya impor, terutama bahan baku industri dan barang konsumen, yang pada gilirannya mendorong inflasi ke level yang lebih tinggi.

  • Faktor eksternal: Kebijakan pengetatan moneter di Amerika Serikat, naiknya suku bunga Federal Reserve, serta ketidakpastian geopolitik yang mengalirkan aliran modal ke aset safe‑haven.
  • Faktor domestik: Defisit neraca berjalan yang masih cukup lebar, penurunan cadangan devisa, serta ekspektasi inflasi yang memicu permintaan perlindungan dalam bentuk dolar.
  • Sentimen pasar: Spekulasi terhadap kemungkinan penurunan suku bunga Bank Indonesia membuat investor menilai rupiah kurang menarik dibandingkan mata uang lain.

Gafmi menjelaskan bahwa kombinasi antara tekanan inflasi yang meningkat dan pertumbuhan ekonomi yang melambat membentuk apa yang ia sebut “himpitan ganda“. Inflasi yang tinggi menggerus daya beli masyarakat, sementara pertumbuhan yang melambat mengurangi lapangan kerja dan pendapatan nasional.

Ia menekankan bahwa kebijakan moneter harus bersifat seimbang. Suku bunga yang terlalu tinggi dapat menekan investasi domestik, namun kebijakan yang terlalu longgar berisiko memperburuk depresiasi rupiah. Sebagai alternatif, Gafmi menyarankan peningkatan efisiensi penggunaan cadangan devisa, diversifikasi ekspor non‑migas, serta penguatan kebijakan fiskal yang mendukung sektor produktif.

Selain itu, pemerintah diharapkan memperkuat mekanisme pengelolaan risiko nilai tukar, seperti kontrak lindung nilai bagi perusahaan impor dan ekspor, serta memperluas akses pembiayaan dalam mata uang lokal untuk mengurangi ketergantungan pada dolar.

Jika langkah‑langkah tersebut tidak diambil secara konsisten, risiko terjadinya spiral inflasi‑depresi dapat mengancam pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional yang telah ditetapkan untuk tahun mendatang.