IHSG Anjlok 8,35%: TPIA Jatuh 53% Menjadi Top Losers, LCKM Meroket 29% di Pekan Ini
IHSG Anjlok 8,35%: TPIA Jatuh 53% Menjadi Top Losers, LCKM Meroket 29% di Pekan Ini

IHSG Anjlok 8,35%: TPIA Jatuh 53% Menjadi Top Losers, LCKM Meroket 29% di Pekan Ini

LintasWarganet.com – 24 Mei 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 8,35 persen pada pekan 18‑22 Mei 2026, menutup pada level 6.162,045. Penurunan ini mengakibatkan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) menyusut sekitar Rp1.190 triliun, dari Rp11.825 triliun menjadi Rp10.635 triliun, atau penurunan 10,07 persen.

Salah satu saham yang paling terdampak adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), milik konglomerat terbesar Indonesia, Prajogo Pangestu. Saham TPIA terjun bebas hingga mencatat koreksi terdalam 53,49 persen, berakhir pekan ini pada harga Rp2.000 per lembar, jauh di bawah level Rp4.300 pada pekan sebelumnya. Penurunan ini menempatkan TPIA di puncak daftar top losers sepekan.

Di sisi lain, terdapat saham yang justru mencatat kenaikan signifikan. PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) memimpin daftar top gainers dengan lonjakan 29,36 persen, menutup pada Rp141 per saham, naik dari Rp109 pada pekan lalu. Saham lain yang mencatat pertumbuhan di atas 10 persen meliputi PT Asiaplast Industries Tbk (APLI) naik 12,39 persen ke Rp254, PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM) naik 12 persen ke Rp140, serta PT Unggul Indah Cahaya Tbk (UNIC) naik 11,03 persen ke Rp14.600.

Rincian Top Losers

  • PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): -53,49% (Rp2.000)
  • PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA): -50,20% (Rp630)
  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA): -47,34% (Rp545)
  • PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN): -39,41% (Rp515)

WBSA, yang baru saja melantai pada 10 Mei 2026 dengan harga penawaran Rp168, juga mengalami tekanan berat, turun dari Rp1.265 ke Rp630. Penurunan serupa terlihat pada DSSA dan CUAN, menandakan volatilitas tinggi pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar.

Faktor Penyebab Penurunan Pasar

Para analis mengidentifikasi kombinasi faktor teknikal dan eksternal yang memicu koreksi ini. Imam Gunadi dari PT Indo Premier Sekuritas menyebutkan bahwa sesi penutupan lelang (closing auction) menjadi titik tekanan utama karena penyesuaian portofolio dana pasif global. Selain itu, mekanisme rebalancing MSCI yang dijadwalkan efektif pada 29 Mei 2026 menambah ketidakpastian, terutama mengingat potensi upgrade Korea Selatan dari Emerging Market menjadi Developed Market yang dapat menarik aliran dana kembali ke pasar emerging, termasuk Indonesia.

Meski demikian, fundamental ekonomi domestik tetap kuat. PDB Indonesia pada kuartal I‑2026 tumbuh 5,61 persen, menunjukkan daya tahan ekonomi yang cukup solid. Namun, volatilitas pasar diproyeksikan akan tetap tinggi hingga arus dana asing stabil pasca‑effective date MSCI.

Implikasi Bagi Investor

Investor disarankan untuk meningkatkan disiplin dalam manajemen risiko. Pada periode dengan volatilitas tinggi, diversifikasi portofolio dan penetapan stop‑loss menjadi strategi penting. Saham-saham yang berada di top losers seperti TPIA dan WBSA dapat menjadi peluang beli bagi investor jangka panjang yang yakin pada prospek fundamental perusahaan, namun harus dilakukan dengan analisis mendalam terhadap valuasi dan risiko pasar.

Di sisi lain, saham-saham yang masuk top gainers menawarkan peluang pertumbuhan jangka pendek, terutama bagi trader yang mengandalkan momentum. Namun, kenaikan tajam dalam waktu singkat juga dapat berbalik menjadi penurunan mendadak bila sentimen pasar berubah.

Secara keseluruhan, pergerakan IHSG selama pekan ini mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh faktor teknikal global, penyesuaian portofolio dana internasional, serta sentimen domestik yang masih positif. Investor perlu tetap waspada dan menyesuaikan strategi investasi dengan kondisi pasar yang terus berubah.