Harga BBM Bersubsidi Tetap Stabil Meski Harga Minyak Dunia Meroket
Harga BBM Bersubsidi Tetap Stabil Meski Harga Minyak Dunia Meroket

Harga BBM Bersubsidi Tetap Stabil Meski Harga Minyak Dunia Meroket

LintasWarganet.com – 20 Mei 2026 | Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tetap stabil meski pasar minyak internasional mengalami lonjakan signifikan.

Berikut beberapa alasan utama pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi:

  • Melindungi daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.
  • Mencegah tekanan inflasi yang dapat memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.
  • Menjaga stabilitas sektor transportasi dan logistik yang sangat bergantung pada bahan bakar murah.
  • Memastikan anggaran subsidi tidak melampaui target fiskal 2024.

Pertalite dan Biosolar, dua varian BBM bersubsidi utama, masih dipatok masing‑masing pada Rp10.000 per liter dan Rp9.500 per liter. Sebagai perbandingan, berikut tabel harga BBM bersubsidi selama enam bulan terakhir:

Bulan Pertalite (Rp/L) Biosolar (Rp/L)
Januari 10.000 9.500
Februari 10.000 9.500
Maret 10.000 9.500
April 10.000 9.500
Mei 10.000 9.500
Juni 10.000 9.500

Pengamat ekonomi menilai langkah ini sebagai upaya jangka pendek untuk menahan inflasi, namun mengingat fluktuasi harga minyak yang terus tinggi, beban subsidi dapat meningkat. Pemerintah telah menyiapkan cadangan anggaran khusus sebesar Rp10 triliun untuk menutupi potensi defisit subsidi selama tahun ini.

Selain itu, Bahlil menambahkan bahwa pemerintah juga sedang mempercepat transisi ke energi terbarukan dan meningkatkan efisiensi penggunaan BBM di sektor industri. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menurunkan tekanan pada subsidi di masa depan.

Dengan kebijakan harga tetap, diharapkan konsumen tidak akan merasakan beban tambahan pada biaya transportasi, sementara sektor logistik dapat tetap beroperasi dengan biaya yang terkendali. Namun, para pakar memperingatkan bahwa apabila harga minyak dunia terus berada di level tinggi, tekanan fiskal untuk mempertahankan subsidi dapat menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah.