Dollar Meroket, Sejarah Upaya Penguatan Rupiah: Dari BJ Habibie hingga Dinamika Pasar Global
Dollar Meroket, Sejarah Upaya Penguatan Rupiah: Dari BJ Habibie hingga Dinamika Pasar Global

Dollar Meroket, Sejarah Upaya Penguatan Rupiah: Dari BJ Habibie hingga Dinamika Pasar Global

LintasWarganet.com – 15 Mei 2026 | Dollar Amerika Serikat mencatat kenaikan selama empat hari berturut‑turut, dipicu oleh data ekonomi domestik yang memperkuat keyakinan pasar bahwa Federal Reserve tidak akan menurunkan suku bunga tahun ini. Indeks dolar naik 0,3 persen menjadi 98,83, menandai perpanjangan tren penguatan terpanjang sejak akhir Maret.

Data penjualan ritel bulan April meningkat 0,5 persen, sesuai perkiraan, sementara permintaan konsumen tetap kuat meski survei menunjukkan sikap lebih berhati‑hati. Klaim pengangguran mingguan naik sedikit menjadi 211 ribu, menandakan pasar tenaga kerja masih stabil. Harga impor melonjak 1,9 persen, dipengaruhi oleh kenaikan biaya bahan bakar terbesar dalam empat tahun terakhir.

Faktor eksternal turut memperkuat dolar. Perang di kawasan Teluk Persia masih menggangu aliran minyak, sementara diskusi trilogi antara Presiden Amerika Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping berlangsung, menambah ketidakpastian geopolitik. Komentar pejabat Fed, termasuk Presiden Federal Reserve Kansas City Jeffrey Schmid, menekankan inflasi sebagai risiko utama, memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga di masa depan.

Dampak Penguatan Dolar terhadap Rupiah

Di pasar Asia, penguatan dolar menekan mata uang regional, termasuk rupiah Indonesia. Pada Selasa 12 Mei 2026, nilai tukar rupiah tercatat melemah hingga 17 529 per dolar, level terendah dalam sejarah pasar spot. Kurs Jisdor Bank Indonesia berada di 17 514 per dolar, menandakan tekanan signifikan pada neraca perdagangan dan inflasi impor.

Sejarah mencatat upaya kuat pemerintah Indonesia dalam menstabilkan nilai tukar. Pada akhir 1990‑an, ketika krisis moneter melanda, Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie berhasil menurunkan nilai tukar rupiah dari level lebih dari 17 000 menjadi sekitar 6 500 per dolar. Kebijakan tersebut mencakup restrukturisasi perbankan, di mana beberapa bank digabung menjadi entitas yang lebih kuat, seperti pendirian Bank Mandiri, serta penyesuaian kebijakan moneter yang ketat.

Pelajaran dari Era Habibie untuk Tantangan Saat Ini

Strategi Habibie berfokus pada stabilitas struktural: meningkatkan likuiditas perbankan, mengendalikan inflasi, dan menumbuhkan kepercayaan investor. Meskipun konteks ekonomi global kini berbeda, prinsip‑prinsip tersebut tetap relevan. Penguatan dolar menambah beban pada inflasi impor Indonesia, khususnya pada komoditas energi dan bahan makanan.

  • Import harga energi naik 1,9 % pada April, mempercepat tekanan inflasi domestik.
  • Nilai tukar rupiah berada di atas 17 000 per dolar, meningkatkan biaya impor barang konsumsi.
  • Kebijakan moneter Bank Indonesia diperkirakan akan tetap konservatif untuk menahan laju depresiasi.

Pengamat ekonomi menilai bahwa kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi diperlukan untuk mengurangi volatilitas nilai tukar. Sementara pasar global memperkirakan Federal Reserve tidak akan menurunkan suku bunga tahun ini, fokus Indonesia kini beralih pada penguatan cadangan devisa dan dukungan likuiditas perbankan, langkah‑langkah yang sejalan dengan jejak kebijakan Hababie.

Kesimpulannya, penguatan dolar yang didorong oleh data ekonomi AS yang solid dan ketegangan geopolitik memberikan tantangan baru bagi rupiah. Mengingat sejarah upaya penguatan rupiah pada masa kepemimpinan Habibie, otoritas moneter Indonesia diperkirakan akan mengadopsi kombinasi kebijakan struktural dan intervensi pasar untuk menstabilkan nilai tukar, menjaga daya beli masyarakat, dan memitigasi dampak inflasi impor.