Rupiah Melemah terhadap Dollar, Ekonom Muhammadiyah Anggap Masih Lebih Baik Dibanding Negara Lain

LintasWarganet.com – 13 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) dalam beberapa pekan terakhir. Pada penutupan pasar kemarin, rupiah tercatat sekitar Rp15.300 per dolar, menurun sekitar 0,6% dari hari sebelumnya. Penurunan ini menambah kekhawatiran di kalangan pelaku pasar mengenai stabilitas moneter Indonesia.

Meski demikian, seorang ekonom senior dari Muhammadiyah menilai situasi Indonesia masih relatif lebih baik dibandingkan beberapa negara tetangga di Asia. Dalam wawancara terpisah, Ekonom Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Ahmad Fauzi, menyatakan bahwa faktor fundamental ekonomi Indonesia, seperti cadangan devisa yang kuat dan kebijakan moneter yang konsisten, memberikan ruang napas lebih luas bagi rupiah dibandingkan negara‑negara seperti Filipina, Thailand, atau Vietnam yang mengalami volatilitas lebih tinggi.

Beberapa poin yang menjadi pertimbangan Prof. Dr. H. Ahmad Fauzi antara lain:

  • Cadangan devisa: Indonesia masih mempertahankan cadangan devisa di atas US$130 miliar, cukup untuk menahan tekanan eksternal.
  • Defisit neraca berjalan: Meskipun terdapat defisit, rasio defisit neraca berjalan berada di level yang dapat dikelola.
  • Kebijakan suku bunga: Bank Indonesia telah menyesuaikan suku bunga secara berhati‑hati untuk menstabilkan inflasi sekaligus mendukung nilai tukar.
  • Diversifikasi ekspor: Ekspor Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu komoditas, sehingga lebih tahan terhadap guncangan harga global.

Di sisi lain, negara‑negara lain di kawasan Asia mengalami tekanan yang lebih signifikan. Misalnya, peso Filipina melemah hampir 2% dalam seminggu terakhir, sementara baht Thailand mengalami fluktuasi tajam akibat ketidakpastian politik domestik.

Ekonom Muhammadiyah menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang prudent dan peningkatan produktivitas sebagai kunci untuk mempertahankan daya saing rupiah. Ia juga mengingatkan bahwa faktor eksternal seperti kebijakan moneter Federal Reserve AS dan kondisi geopolitik global tetap menjadi risiko utama yang harus diwaspadai.

Secara keseluruhan, meskipun rupiah berada dalam tren pelemahan, fondasi ekonomi Indonesia yang relatif kuat memberikan keunggulan dibandingkan negara‑negara lain yang berada dalam situasi lebih rapuh.