Papua Tengah Andalkan Sekolah Sepanjang Hari Tingkatkan Kualitas SDM
Papua Tengah Andalkan Sekolah Sepanjang Hari Tingkatkan Kualitas SDM

Papua Tengah Andalkan Sekolah Sepanjang Hari Tingkatkan Kualitas SDM

LintasWarganet.com – 28 April 2026 | Pemerintah Provinsi Papua Tengah menempatkan program Sekolah Sepanjang Hari (SSH) sebagai tulang punggung upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di wilayah tersebut. Inisiatif ini diluncurkan sebagai respons terhadap tantangan pendidikan di daerah yang masih menghadapi keterbatasan fasilitas, rendahnya akses belajar, dan kebutuhan akan tenaga kerja yang lebih kompeten.

Program SSH memperpanjang jam belajar siswa dari standar empat jam menjadi enam hingga delapan jam per hari. Selama waktu tambahan, peserta didik tidak hanya melanjutkan pelajaran inti, tetapi juga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, pelatihan keterampilan hidup, serta program peningkatan literasi digital.

Berikut adalah komponen utama yang diintegrasikan dalam program SSH:

  • Pembelajaran intensif: Materi pelajaran utama diajarkan dengan pendekatan tematik dan berbasis proyek untuk menumbuhkan pemahaman konseptual.
  • Kegiatan ekstrakurikuler: Olahraga, seni budaya, dan klub ilmu pengetahuan diselenggarakan setiap hari untuk mengembangkan bakat dan minat siswa.
  • Pelatihan keterampilan vokasi: Kursus singkat tentang pertanian berkelanjutan, kerajinan tangan, dan teknologi informasi disediakan bagi siswa kelas akhir.
  • Peningkatan kompetensi guru: Guru mengikuti pelatihan metodologi pembelajaran aktif serta penggunaan media digital.
  • Kesehatan dan gizi: Program makan siang gratis dan pemeriksaan kesehatan rutin dijalankan untuk memastikan kondisi fisik optimal.

Target jangka pendek program mencakup peningkatan angka partisipasi belajar (APB) menjadi 95 % dan penurunan tingkat putus sekolah menjadi di bawah 3 % dalam dua tahun ke depan. Sementara itu, target jangka menengah menitikberatkan pada peningkatan rata-rata nilai ujian nasional (UN) sebesar 15 % dan penyerapan lulusan ke pasar kerja lokal.

Data indikatif yang telah dikumpulkan sejak pelaksanaan awal menunjukkan tren positif. Pada semester pertama, sekolah yang mengadopsi SSH mencatat kenaikan rata-rata nilai rata‑rata pelajaran utama sebesar 12 % dibandingkan dengan sekolah konvensional. Selain itu, partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler meningkat dari 40 % menjadi 68 %.

Berbagai pihak, termasuk pemerintah kabupaten, lembaga donor, dan organisasi masyarakat sipil, turut berperan aktif dalam menyediakan sumber daya, pelatihan, serta fasilitas pendukung. Dengan sinergi tersebut, diharapkan program SSH dapat menjadi model replikasi bagi provinsi lain yang memiliki tantangan pendidikan serupa.

Keberhasilan program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang pada peningkatan produktivitas ekonomi, pengurangan kemiskinan, dan penguatan identitas budaya lokal.