Prabowo Dorong Percepatan Pembangunan PLTS untuk Kurangi Ketergantungan Energi Fosil

LintasWarganet.com – 22 April 2026 | Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi prioritas strategis pemerintah dalam upaya menurunkan ketergantungan pada sumber energi fosil, khususnya pembangkit berbasis diesel. Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung agenda mitigasi perubahan iklim.

Dalam sebuah pernyataan resmi, Presiden Prabowo menargetkan peningkatan kapasitas terpasang PLTS sebesar 10.000 megawatt dalam lima tahun ke depan. Pencapaian ini akan melibatkan investasi publik dan swasta, serta kolaborasi dengan lembaga penelitian untuk meningkatkan efisiensi panel surya dan sistem penyimpanan energi.

Beberapa langkah konkret yang diuraikan meliputi:

  • Penyediaan insentif fiskal bagi investor yang menanamkan modal pada proyek PLTS.
  • Pembentukan zona energi terbarukan di wilayah dengan potensi sinar matahari tinggi, seperti Nusa Tenggara, Sulawesi, dan sebagian besar wilayah Jawa Barat.
  • Peningkatan kapasitas jaringan distribusi listrik untuk mengakomodasi aliran energi terbarukan yang lebih besar.
  • Penerapan regulasi yang mempercepat perizinan dan proses tender proyek PLTS.

Data resmi pemerintah menunjukkan bahwa pada akhir tahun 2023, kontribusi energi surya terhadap total bauran energi nasional masih berada di bawah 2 persen. Berikut adalah proyeksi pertumbuhan kapasitas PLTS menurut rencana percepatan:

Tahun Kapasitas Terpasang (MW)
2024 1.800
2025 3.500
2026 5.800
2027 8.200
2028 10.000

Selain manfaat lingkungan, percepatan PLTS diproyeksikan dapat menurunkan biaya operasional pembangkit listrik diesel yang selama ini menjadi beban signifikan bagi daerah terpencil. Menurut analisis internal Kementerian Energi, penggantian diesel dengan tenaga surya dapat mengurangi pengeluaran energi daerah hingga 30 persen dalam jangka panjang.

Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya melibatkan tenaga kerja lokal dalam pembangunan dan pemeliharaan PLTS, sehingga tercipta lapangan kerja baru di sektor hijau. Program pelatihan teknis akan diselenggarakan bersama perguruan tinggi dan lembaga vokasi untuk menyiapkan tenaga ahli yang kompeten.

Dengan langkah-langkah ini, pemerintah berharap Indonesia dapat bergerak lebih cepat menuju target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen pada tahun 2025, sesuai dengan komitmen dalam Kesepakatan Paris.