Makan Tabungan? Konsumsi Ramadan 2026 Meroket, Pasca Lebaran Menggigil
Makan Tabungan? Konsumsi Ramadan 2026 Meroket, Pasca Lebaran Menggigil

Makan Tabungan? Konsumsi Ramadan 2026 Meroket, Pasca Lebaran Menggigil

LintasWarganet.com – 10 April 2026 | Ramadan 2026 menyajikan lonjakan konsumsi yang tak terduga, namun efek “makan tabungan” mulai terasa ketika masa normalisasi pasca Lebaran menggerus daya beli, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah. Kepala Ekonom PT Bank Mandiri, Andry Asmoro, menegaskan bahwa pola konsumsi Indonesia selama dua dekade terakhir selalu diiringi oleh dua siklus utama: Ramadan dan libur Natal–Tahun Baru (Nataru). Pada tahun ini, peningkatan konsumsi di Ramadan sedikit melampaui tren historis, namun penurunan tajam setelah Lebaran menjadi sorotan utama.

Data Konsumsi dan Pertumbuhan Belanja

Mandiri Spending Index (MSI) mencatat pertumbuhan belanja pada kuartal I 2026 sebesar 6,4 % YoY, sedikit di atas 6,2 % pada kuartal I 2025. Namun, pada akhir Maret 2026, pertumbuhan YoY melambat menjadi 6,2 %, jauh di bawah puncak 7,5 % pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini mengindikasikan bahwa dorongan musiman Ramadan belum cukup kuat untuk menahan penurunan konsumsi pasca Lebaran.

Tekanan pada Tabungan Kelas Bawah

Fenomena “makan tabungan” paling terasa di segmen masyarakat dengan saldo rata‑rata di bawah Rp1 juta. Indeks tabungan kelas bawah menurun drastis ke 74,2 pada Maret 2026, turun dari 84,4 pada Maret 2025 dan 97,4 pada Maret 2024. Meskipun bantuan sosial (bansos) dan perlindungan sosial (perlinsos) tetap mengalir, tekanan tetap signifikan karena pengeluaran konsumsi yang tinggi selama Ramadan.

  • Saldo rata‑rata di bawah Rp100 juta kini berkisar Rp1,64 – 1,70 juta, turun dari sekitar Rp4 juta pada 2013 (data LPS).
  • Kelas menengah (saldo Rp1‑10 juta) tetap stabil, indeks 101,4 pada 2024 menjadi 101,8 pada 2026.
  • Kelas atas (saldo >Rp10 juta) mencatat penurunan indeks ke 89,5, namun penurunan ini dipandang sebagai pergeseran ke investasi yang lebih agresif, bukan kehilangan daya beli.

Pergeseran Portofolio dan Dampak Suku Bunga

Asmoro menjelaskan bahwa penurunan indeks tabungan kelas atas tidak mencerminkan kemiskinan, melainkan alih alih dana ke instrumen investasi yang lebih menguntungkan. Penurunan suku bunga perbankan membuka peluang bagi nasabah berpenghasilan tinggi untuk menambah kepemilikan aset finansial, memperlebar kesenjangan kekayaan.

Respons Pemerintah dan Pelaku Usaha

Pemerintah dan pelaku usaha diimbau untuk mengantisipasi penurunan daya beli pasca Lebaran. Kebijakan stimulus yang terfokus pada kelompok rentan, serta program edukasi keuangan, diharapkan dapat menahan efek “makan tabungan” yang dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Kontras Pandangan Purbaya

Di sisi lain, Purbaya, kepala lembaga riset ekonomi, menolak pandangan bahwa ekonomi Indonesia sedang melambat. Ia menyoroti akselerasi pertumbuhan setelah Lebaran, mengutip data penjualan ritel yang kembali naik pada kuartal II 2026. Menurutnya, lonjakan konsumsi pasca Lebaran menunjukkan resiliennya pasar domestik, meski tekanan pada tabungan kelas bawah tetap menjadi tantangan struktural.

Secara keseluruhan, Ramadan 2026 memperlihatkan konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, namun efek “makan tabungan” mengingatkan pada kerentanan kelompok berpendapatan rendah. Kebijakan yang menyeimbangkan antara stimulus konsumsi dan perlindungan tabungan menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.