WhatsApp Uji Fitur Hapus Otomatis, Sementara Texas Gugat Meta atas Klaim Enkripsi Palsu
WhatsApp Uji Fitur Hapus Otomatis, Sementara Texas Gugat Meta atas Klaim Enkripsi Palsu

WhatsApp Uji Fitur Hapus Otomatis, Sementara Texas Gugat Meta atas Klaim Enkripsi Palsu

LintasWarganet.com – 23 Mei 2026 | WhatsApp kembali berada di sorotan publik setelah meluncurkan dua berita besar yang berlawanan: pengujian fitur penghapusan pesan seketika dan gugatan hukum dari negara bagian Texas, Amerika Serikat, yang menuduh perusahaan induknya, Meta, menyesatkan pengguna tentang keamanan enkripsi.

Fitur Hapus Otomatis yang Sedang Diuji

Tim pengembangan WhatsApp kini tengah menguji mekanisme baru yang memungkinkan pesan teks menghilang secara otomatis begitu penerima meninggalkan layar obrolan atau selesai membaca pesan tersebut. Berbeda dengan fitur “self‑destruct” yang mengandalkan timer (24 jam, 7 hari, atau 90 hari), mekanisme baru ini beroperasi berdasarkan tindakan membaca aktual.

Pengguna dapat mengaktifkan opsi ini secara individual pada setiap percakapan atau menjadikannya pengaturan default untuk seluruh chat baru. Pilihan durasi penghapusan meliputi 5 menit, 1 jam, atau 12 jam setelah pesan terbaca, sementara pesan yang belum terbaca akan otomatis terhapus maksimal dalam 24 jam.

Fitur ini saat ini tersedia secara terbatas pada versi beta di perangkat Android dan iOS, dengan rencana peluncuran lebih luas dalam beberapa bulan ke depan. WhatsApp menekankan bahwa tujuan utama adalah meningkatkan privasi dan mengurangi jejak digital yang dapat disalahgunakan.

Kontroversi Enkripsi dan Gugatan Texas

Pada saat yang sama, Kantor Jaksa Agung Texas, dipimpin oleh Ken Paxton, mengajukan gugatan terhadap Meta dengan tuduhan bahwa WhatsApp menyesatkan konsumen mengenai klaim enkripsi ujung‑ke‑ujung. Menurut gugatan, perusahaan mengklaim bahwa hanya pengirim dan penerima yang dapat mengakses isi pesan, namun secara rahasia memiliki akses “virtually all” komunikasi pengguna.

Gugatan tersebut didasarkan pada laporan seorang penyidik Departemen Perdagangan AS yang mengklaim menemukan bukti bahwa karyawan Meta dapat membaca konten terenkripsi. Meskipun bukti konkret belum dipublikasikan, para ahli keamanan, termasuk mantan kepala keamanan Meta Alex Stamos, menyatakan bahwa skenario tersebut hampir pasti tidak benar karena backdoor semacam itu akan mudah terdeteksi oleh peneliti keamanan.

Meta membantah semua tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa enkripsi ujung‑ke‑ujung WhatsApp beroperasi sepenuhnya pada perangkat pengguna. Peneliti keamanan Matthew Green menambahkan bahwa jika ada pelanggaran, kode tersebut akan terlihat jelas dalam audit keamanan publik.

Implikasi bagi Pengguna dan Regulasi

Kedua peristiwa ini menyoroti ketegangan antara inovasi fitur privasi dan kepercayaan publik terhadap jaminan keamanan. Fitur penghapusan otomatis dapat menjadi nilai tambah bagi pengguna yang menginginkan kontrol lebih besar atas jejak digital mereka, namun juga menimbulkan pertanyaan tentang potensi penyalahgunaan, misalnya dalam konteks bukti digital.

Sementara itu, gugatan Texas menggarisbawahi tekanan regulator yang semakin intensif terhadap perusahaan teknologi besar. Jika gugatan berhasil, Meta dapat dikenai denda hingga $10.000 per pelanggaran serta perintah hukum yang melarang akses ke konten pesan di Texas. Keputusan ini dapat menjadi preseden bagi negara bagian lain yang mempertimbangkan tindakan serupa.

Untuk menghadapi tekanan tersebut, perusahaan teknologi biasanya memperkuat transparansi kebijakan privasi dan meningkatkan audit independen. Di sisi lain, pengguna disarankan untuk memanfaatkan fitur keamanan yang tersedia, seperti verifikasi dua langkah, serta memahami batasan enkripsi yang ada.

Secara keseluruhan, WhatsApp berada pada persimpangan penting: mengembangkan teknologi yang meningkatkan privasi sambil mempertahankan kepercayaan pengguna di tengah tuduhan hukum yang dapat mengguncang reputasinya. Perkembangan selanjutnya akan sangat memengaruhi lanskap komunikasi digital, baik di Indonesia maupun secara global.