Wall Street Terpuruk, Nasdaq Turun 10% dari Puncak Usai Lonjakan Harga Minyak dan Ketegangan AS‑Iran
Wall Street Terpuruk, Nasdaq Turun 10% dari Puncak Usai Lonjakan Harga Minyak dan Ketegangan AS‑Iran

Wall Street Terpuruk, Nasdaq Turun 10% dari Puncak Usai Lonjakan Harga Minyak dan Ketegangan AS‑Iran

LintasWarganet.com – 28 Maret 2026 | Indeks utama pasar saham Amerika Serikat kembali mengalami penurunan tajam pada akhir pekan ini setelah lonjakan harga minyak mentah yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Nasdaq Composite melaporkan penurunan lebih dari 10 persen dari level tertinggi yang dicapai pada bulan Januari, sementara S&P 500 dan Dow Jones turun masing‑masing lebih dari 1 persen pada penutupan hari Kamis, 26 Maret 2026.

Lonjakan Harga Minyak Memicu Kekhawatiran Inflasi

Kenaikan harga minyak mentah Amerika Serikat mencapai 4,6 persen dan Brent menguat 5,7 persen setelah laporan tentang kemungkinan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Harga yang melambung tersebut menambah tekanan pada inflasi global, memaksa investor beralih ke aset safe‑haven seperti obligasi pemerintah dan emas.

Nasdaq Masuk Fase Koreksi

Nasdaq Composite menutup pada angka 21.408,08, turun 521,74 poin atau 2,38 persen, menandai masuknya indeks ke fase koreksi teknikal. Penurunan ini merupakan yang terbesar sejak awal tahun, mengakhiri rentang kenaikan yang berlangsung selama tiga tahun terakhir. Sektor teknologi, khususnya perusahaan chip, menjadi penyumbang utama penurunan, dengan indeks semikonduktor Philadelphia anjlok hampir 5 persen. Saham Nvidia, yang sebelumnya menjadi pendorong kinerja Nasdaq, turun lebih dari 4 persen.

Reaksi Kebijakan dan Pernyataan Pemerintah

Presiden Donald Trump menegaskan kembali bahwa Iran harus mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat atau menghadapi tindakan militer lebih lanjut, termasuk opsi penguasaan minyak Iran. Sementara itu, pejabat senior Iran menolak proposal Amerika sebagai tidak adil, meski menyatakan diplomasi masih berjalan. Pada hari yang sama, Trump mengumumkan jeda serangan terhadap fasilitas energi Iran selama sepuluh hari hingga 6 April, mengurangi ketegangan sementara namun tidak cukup menurunkan harga minyak.

Analisis Pakar Pasar

  • Doug Beath, Global Equity Strategist, Wells Fargo Investment Institute: “Pergerakan pasar sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian ‘kabut perang’. Sinyal yang saling bertentangan membuat investor ragu‑ragu dan mempercepat penjualan aset berisiko.”
  • Peter Tuz, Chase Investment Counsel: “Setelah tiga tahun performa positif, penurunan 10‑20 persen tidak mengherankan. Indikator teknikal yang lemah dapat memicu aksi jual lanjutan hingga situasi geopolitik lebih jelas.”

Pergerakan Sektoral

Hampir seluruh sektor dalam S&P 500 berada di zona merah. Sektor energi menjadi satu‑satunya pengecualian dengan kenaikan 1,6 persen, didorong oleh permintaan minyak yang meningkat. Utilitas defensif naik tipis 0,2 persen, sementara sektor layanan komunikasi dan teknologi mencatat penurunan terdalam masing‑masing 3,5 persen dan 2,7 persen. Saham Meta dan Alphabet (Google) tertekan setelah keputusan pengadilan yang menyatakan keduanya bertanggung jawab atas dampak media sosial terhadap anak‑anak, menyebabkan penurunan hampir 8 persen pada Meta dan lebih dari 3 persen pada Alphabet.

Dampak pada Pasar Global dan Kebijakan Moneter

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperingatkan bahwa gangguan jalur minyak melalui Selat Hormuz dapat mendorong inflasi global lebih tinggi. Kenaikan harga minyak menempatkan bank sentral, khususnya Federal Reserve, dalam posisi sulit untuk menentukan arah suku bunga. Ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini menurun, dengan pasar kini memperkirakan Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga yang ketat lebih lama.

Data Ekonomi Amerika Serikat

Data pengangguran terbaru menunjukkan kenaikan tipis klaim pengangguran, menandakan pasar tenaga kerja tetap relatif stabil. Namun, tekanan inflasi dan ketidakpastian geopolitik membuat keputusan kebijakan moneter menjadi lebih kompleks.

Dengan dinamika geopolitik yang terus berubah dan volatilitas harga minyak yang tinggi, pasar saham Amerika diperkirakan akan tetap berada di zona berisiko selama beberapa minggu ke depan. Investor disarankan untuk memperhatikan perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, serta pergerakan harga komoditas energi sebagai indikator utama arah pasar selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *