Virgil van Dijk Jadi Sorotan: Gol Pembuka, Kontroversi VAR, dan Kritik Pedas Usai Imbang 2-2 melawan Jepang
Virgil van Dijk Jadi Sorotan: Gol Pembuka, Kontroversi VAR, dan Kritik Pedas Usai Imbang 2-2 melawan Jepang

Virgil van Dijk Jadi Sorotan: Gol Pembuka, Kontroversi VAR, dan Kritik Pedas Usai Imbang 2-2 melawan Jepang

LintasWarganet.com – 15 Juni 2026 | Di laga pembuka Grup F Piala Dunia 2026, Belanda harus berbagi angka dengan Jepang setelah pertandingan berakhir 2-2 di AT&T Stadium, Arlington, Texas. Kapten Oranje, Virgil van Dijk, menjadi tokoh utama: ia membuka skor lewat sundulan pada menit ke‑51, namun pada menit ke‑88 ia gagal menahan serangan sudut Jepang yang berujung gol penyama kedudukan. Performa Van Dijk menuai pujian, kritik, bahkan perdebatan tentang penggunaan VAR.

Gol Pembuka yang Membuat Belanda Memimpin

Setelah babak pertama berakhir tanpa peluang berarti, Belanda meningkatkan intensitas pada fase kedua. Pada menit ke‑51, Ryan Gravenberch melepaskan umpan silang ke kotak penalti, dan Van Dijk melompat tinggi untuk menanduk bola ke dalam gawang, memberikan keunggulan 1-0 bagi tim asuhan Ronald Koeman. Gol tersebut tidak hanya menambah angka, tetapi juga menegaskan peran penting bek berusia 34 tahun dalam memimpin lini belakang.

Balik Serangan Jepang dan Kontroversi VAR

Enam menit setelah gol Van Dijk, Keito Nakamura menyamakan kedudukan lewat tembakan mendatar dari assist Takefusa Kubo. Belanda kembali unggul pada menit ke‑64 lewat Crysencio Summerville yang menembus pertahanan Jepang. Namun, pada menit ke‑88, Jepang memanfaatkan tendangan sudut Junya Ito. Koki Ogawa melompat lebih tinggi dari Van Dijk, mengarahkan bola ke depan gawang; bola kemudian memantul pada Daichi Kamada sebelum melesat ke sudut kiri bawah gawang Bart Verbruggen.

Pelatih Jepang, Hajime Moriyasu, mengeluhkan bahwa VAR hanya memeriksa offside, bukan potensi pelanggaran sebelum sundulan Ogawa. Ia menegaskan bahwa duel udara antara Ogawa dan Van Dijk seharusnya menjadi subjek pemeriksaan VAR, mengingat bek berusia 34 tahun biasanya dominan dalam duel udara.

Reaksi Van Dijk dan Kritik Publik

Setelah peluit akhir, Van Dijk mengakui kekecewaannya: “Mereka tidak menciptakan banyak peluang, jadi sangat mengecewakan kami kebobolan lewat set‑piece di menit akhir. Kami tetap akan fokus pada pertandingan berikutnya melawan Swedia.”

Walaupun terpilih sebagai pemain terbaik pertandingan, ia menjadi sasaran kritik di media sosial. Beberapa fans bahkan meminta pencabutan penghargaan tersebut, berargumen bahwa golnya tidak cukup menutupi kebobolan dari situasi set‑piece. Kritik tersebut menyoroti ekspektasi tinggi terhadap Van Dijk, yang selama ini dianggap sebagai salah satu bek terbaik dunia dalam mengantisipasi bola udara.

Peran Van Dijk di Liverpool dan Dampak Usia

Di luar skuad nasional, Van Dijk tetap menjadi pilar pertahanan Liverpool. Menurut data sebelum turnamen, ia mencatat 5.841 menit bermain sejak Juni 2025, dengan hanya 279 menit yang tidak dimainkan. Pada usia 34 tahun, ia menjadi pemain tertua yang bermain setiap menit dalam satu musim Premier League, melampaui rekor John Terry.

Analisis dari para pengamat menekankan bahwa meskipun kecepatan akselerasinya menurun, Van Dijk masih menunjukkan ketahanan luar biasa. Ia mencatat 114 sentuhan bola, termasuk mengambil tendangan goal‑kick karena masalah pinggul Bart Verbruggen, serta mencatat sembilan kontribusi defensif terbanyak dalam pertandingan melawan Jepang.

Strategi Belanda ke Depan

  • Menjaga konsistensi pertahanan: Mengurangi ketergantungan pada satu pemain, meskipun Van Dijk tetap menjadi pusat komando.
  • Mengoptimalkan serangan balik: Memanfaatkan kecepatan sayap dan kreativitas midfield untuk menciptakan peluang lebih awal.
  • Memperbaiki eksekusi set‑piece: Menghindari kebobolan dari situasi sudut dan tendangan bebas yang menjadi titik lemah pada laga melawan Jepang.

Dengan hasil imbang 2-2, Belanda tetap berada di posisi ketiga grup, tetapi masih memiliki peluang melaju ke babak selanjutnya jika dapat mengamankan kemenangan melawan Swedia dan mengendalikan selisih gol. Van Dijk, meski mendapat sorotan kritis, tetap menjadi figur kunci dalam upaya Belanda menggapai impian Piala Dunia pertama sejak 1978.

Secara keseluruhan, pertandingan ini menegaskan betapa pentingnya peran seorang kapten berpengalaman di panggung dunia. Gol awal Van Dijk menunjukkan kualitasnya, sementara kebobolan akhir mengingatkan bahwa bahkan pemain terbaik pun tidak kebal terhadap tekanan taktis dan keputusan VAR yang kontroversial.