Viral Lomba Cerdas Cermat MPR di Kalbar Beda Penilaian Padahal Jawaban Sama, SMAN 1 Pontianak Minta Penjelasan

LintasWarganet.com – 12 Mei 2026 | Video lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah terungkap adanya perbedaan penilaian juri terhadap dua tim yang memberikan jawaban identik.

Acara tersebut dilaksanakan pada tanggal 25 April 2024 di Balai Besar Provinsi Kalimantan Barat dan dihadiri oleh delegasi dari berbagai SMA se‑provinsi. Setiap tim diminta menjawab serangkaian pertanyaan yang berhubungan dengan empat pilar MPR, meliputi ketahanan nasional, pembangunan, kesejahteraan rakyat, dan keadilan sosial.

Masalah muncul ketika tim SMAN 1 Pontianak dan tim SMA lain menjawab pertanyaan nomor tiga dengan jawaban yang sama persis, namun nilai yang diberikan berbeda: tim SMAN 1 Pontianak memperoleh 7 poin, sementara tim lainnya mendapat 9 poin. Perbedaan nilai tersebut terekam dalam video yang kemudian beredar luas di platform‑platform digital.

Tim Jawaban Nilai Diberikan
SMAN 1 Pontianak Jawaban A (identik) 7
Tim X (sekolah lain) Jawaban A (identik) 9

Setelah video tersebut viral, pihak SMAN 1 Pontianak secara resmi menuntut klarifikasi dari panitia lomba. Kepala Sekolah SMAN 1 Pontianak, Bapak Andi Sukmawan, menyatakan bahwa perbedaan nilai tersebut dapat menurunkan kepercayaan peserta terhadap keadilan kompetisi.

Panitia lomba melalui ketua penyelenggara, Ibu Rina Sari, menjawab bahwa proses penilaian melibatkan dua juri independen yang menilai secara terpisah. Ia menambahkan bahwa perbedaan nilai dapat terjadi karena interpretasi yang berbeda terhadap kriteria penilaian, meskipun jawaban secara faktual sama.

Namun, sejumlah pakar pendidikan dan aktivis siswa menilai bahwa standar penilaian harus lebih transparan dan konsisten, terutama pada kompetisi yang melibatkan nilai akademik dan kebangsaan. Mereka menyarankan agar panitia menyediakan rubrik penilaian yang dapat diakses publik serta melakukan audit independen bila ada sengketa.

Kontroversi ini sekaligus menimbulkan diskusi lebih luas tentang kualitas penyelenggaraan kompetisi akademik di tingkat provinsi. Beberapa pihak mengusulkan agar MPR dan Dinas Pendidikan Kalimantan Barat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur juri, termasuk pelatihan intensif sebelum kompetisi dimulai.

Sampai kini, belum ada keputusan akhir dari pihak penyelenggara mengenai permintaan penjelasan SMAN 1 Pontianak. Semua mata kini tertuju pada langkah selanjutnya, apakah akan ada revisi nilai, permohonan maaf resmi, atau perubahan mekanisme penilaian dalam lomba serupa di masa depan.