Turki Bercanda Hidupkan Kembali Kekaisaran Ottoman untuk Membebaskan Yerusalem
Turki Bercanda Hidupkan Kembali Kekaisaran Ottoman untuk Membebaskan Yerusalem

Turki Bercanda Hidupkan Kembali Kekaisaran Ottoman untuk Membebaskan Yerusalem

LintasWarganet.com – 10 Juni 2026 | Menteri Dalam Negeri Turki baru-baru ini menyatakan bahwa Ankara memiliki visi jangka panjang untuk “membebaskan” Yerusalem, sebuah kota suci yang selama ratusan tahun berada di bawah pemerintahan Kekaisaran Ottoman. Pernyataan ini menimbulkan spekulasi tentang kemungkinan Turki menghidupkan kembali ambisi kekaisaran lama demi tujuan geopolitik di Timur Tengah.

Sejak runtuhnya Kekaisaran Ottoman pada akhir abad ke-19, Yerusalem telah mengalami serangkaian pergantian pemerintahan, mulai dari mandat Inggris hingga pendirian negara Israel pada 1948. Bagi Turki, kota ini tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga simbolik sebagai warisan peradaban Islam dan kebanggaan nasional.

Berikut beberapa faktor yang menjadi dasar pernyataan tersebut:

  • Penguatan identitas Islam di dalam negeri, yang dapat meningkatkan popularitas pemerintah di kalangan konservatif.
  • Upaya memperluas pengaruh Turki di wilayah Timur Tengah, khususnya dalam persaingan dengan negara-negara Arab dan Iran.
  • Pencarian legitimasi internasional melalui isu-isu keagamaan dan historis yang sensitif.

Namun, realisasi rencana tersebut menghadapi banyak tantangan:

  1. Kontrol militer dan administratif Yerusalem saat ini berada di tangan Israel, yang memiliki dukungan kuat dari Amerika Serikat.
  2. Resistensi kuat dari pihak Palestina yang menganggap setiap upaya luar dapat mengancam hak mereka atas kota tersebut.
  3. Tekanan diplomatik dari sekutu-sekutu Turki di NATO dan Uni Eropa, yang cenderung menentang perubahan status quo.

Para pengamat menilai bahwa pernyataan Menteri Dalam Negeri lebih bersifat retorika politik untuk menggalang dukungan domestik daripada rencana operasional yang konkret. Meski demikian, Turki terus meningkatkan kerja sama militer dan ekonomi dengan negara-negara Muslim lainnya, yang dapat menjadi fondasi bagi kebijakan luar negeri yang lebih agresif di masa depan.

Secara keseluruhan, kemungkinan Turki “menghidupkan kembali” Kekaisaran Ottoman demi membebaskan Yerusalem masih sangat spekulatif. Faktor sejarah, geopolitik, dan dinamika regional membuat skenario tersebut tampak lebih sebagai aspirasi simbolik daripada agenda kebijakan yang dapat direalisasikan dalam waktu dekat.