LintasWarganet.com – 28 Mei 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Rabu (27 Mei) menyatakan keberatannya atas kemungkinan persediaan uranium Iran yang telah diperkaya tingkat tinggi diserahkan kepada Rusia atau China. Menurut Trump, langkah tersebut tidak sejalan dengan kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat dan sekutunya.
Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan menyetujui transfer uranium tersebut kepada negara‑negara yang dianggapnya dapat memperkuat kemampuan nuklir mereka. Ia menambahkan bahwa keputusan semacam itu dapat meningkatkan ketegangan geopolitik dan memperburuk situasi di kawasan Timur Tengah.
Beberapa poin utama yang diungkapkan Trump meliputi:
- Penolakan tegas atas transfer uranium Iran ke Rusia atau China.
- Keprihatinan bahwa peningkatan persediaan uranium dapat mempercepat pengembangan senjata nuklir oleh pihak penerima.
- Kebutuhan untuk menjaga integritas perjanjian nuklir Iran (JCPOA) dan mencegah pelanggaran lebih lanjut.
Dalam pernyataannya, Trump juga menyinggung kembali peran Amerika Serikat dalam menegosiasikan kembali kesepakatan nuklir Iran yang sempat dibatalkan pada awal masa kepresidenannya. Ia menyoroti pentingnya kontrol ketat atas bahan baku nuklir untuk menghindari proliferasi senjata pemusnah massal.
Para pengamat menilai bahwa pernyataan Trump mencerminkan kebijakan luar negeri AS yang tetap keras terhadap Iran, meski terdapat pergeseran strategi diplomatik pada administrasi sebelumnya. Mereka juga memperingatkan bahwa jika uranium tersebut benar‑benar berpindah ke tangan Rusia atau China, hal itu dapat memicu respons balasan dari sekutu‑sekutu regional seperti Arab Saudi dan Israel.
Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi mengenai rencana konkret transfer uranium tersebut. Pemerintah Iran sendiri menolak tuduhan bahwa mereka berniat menyerahkan bahan nuklir kepada negara lain, menyatakan bahwa semua material berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Situasi ini diperkirakan akan terus menjadi sorotan dalam pertemuan‑pertemuan diplomatik mendatang, terutama mengingat ketegangan yang terus meningkat antara Barat dan Rusia‑China dalam konteks persaingan strategis global.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet