LintasWarganet.com – 13 April 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan internasional setelah serangkaian keputusan dan tindakan kontroversial yang memicu reaksi beragam dari pasar keuangan, komunitas keagamaan, serta pemimpin dunia.
Blokade Selat Hormuz dan Dampaknya pada Pasar
Pada hari Selasa, Trump mengumumkan perintah militer untuk memblokade Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Laut Arab dengan Teluk Persia. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Sekarang, pasar saham Amerika menunjukkan pergerakan campur aduk; indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq masing‑masing mengalami kenaikan dan penurunan yang tidak konsisten. Analis menilai bahwa kebijakan militer baru ini menambah ketidakpastian geopolitik dan meningkatkan volatilitas harga energi, terutama minyak mentah.
Gambar AI Trump sebagai Yesus Kristus Memicu Kegemparan
Pada Minggu malam, Trump memposting gambar yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) di akun Truth Socialnya. Gambar tersebut menampilkan sang mantan presiden berpakaian putih dengan selendang merah, menyalurkan cahaya ilahi ke seorang pasien di rumah sakit, sementara latar belakang dipenuhi simbol Amerika seperti Patung Liberty dan bendera merah‑putih. Postingan ini muncul tepat pada hari Minggu Paskah Ortodoks, satu minggu setelah perayaan Paskah di banyak negara Kristen.
Reaksi cepat datang dari kalangan konservatif dan tokoh keagamaan. Michael Knowles, komentator konservatif, menilai gambar itu harus dihapus karena menyinggung secara spiritual dan politik. Riley Gaines, aktivis konservatif, menilai bahwa Trump membutuhkan “sedikit kerendahan hati” dan menegaskan “Tuhan tidak boleh diejek”. Marjorie Taylor Greene, mantan anggota Kongres Republik, menyebut gambar tersebut “lebih dari blaspemi” dan “semangat Antikristus”. Bahkan tokoh media konservatif seperti Cam Higby dan Ari Fleischer menilai tindakan itu “tidak pantas” dan “memalukan”.
Reaksi Kepausan dan Iran
Kontroversi ini semakin memanas setelah Trump menyerang Paus Leo XIV (yang digambarkan sebagai Paus Leo dalam laporan) melalui media sosial, menuding Paus tersebut lemah dalam kebijakan kriminal dan luar negeri, serta menuduh Paus mendukung Iran. Paus Leo, tanpa menyebut nama Trump, menekankan pentingnya perdamaian dan dialog dalam menghadapi perang Iran‑AS. Sebagai balasannya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengutuk “penghinaan” terhadap Paus, menyatakan “pencemaran Yesus, nabi perdamaian, tidak dapat diterima”.
Menariknya, sejumlah pejabat tinggi pemerintahan Trump beragama Katolik, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Sekretaris Luar Negeri Marco Rubio, dan Sekretaris Kesehatan Robert Kennedy Jr., sementara lainnya berlatar evangelikal atau protestan. Hal ini menambah lapisan kompleksitas dalam dinamika internal pemerintahan terkait isu agama.
Dampak Politik Dalam Negeri dan Strategi Demokrat
Di dalam negeri, kontroversi ini menimbulkan perpecahan di antara basis pendukung Trump. Beberapa anggota sayap kanan tetap membela kebijakan luar negeri Trump, terutama terkait blokade Hormuz, sementara yang lain mengkritik cara Trump mengekspresikan diri secara religius. Pada saat yang sama, analis politik menunjukkan bahwa Demokrat dapat memanfaatkan kontroversi ini sebagai “senjata” untuk menyerang citra Trump menjelang pemilihan mendatang. Dengan menyoroti pelanggaran norma sosial dan agama, partai lawan berharap dapat mengurangi dukungan pemilih evangelikal yang selama ini menjadi basis kuat Trump.
Gugatan $10 Miliar Terhadap Wall Street Journal
Di tengah pusaran kontroversi, pengadilan federal menolak gugatan Trump senilai $10 miliar terhadap Wall Street Journal yang menuduhnya menyebarkan kartu ulang tahun terkait Epstein. Keputusan hakim menegaskan bahwa klaim tersebut tidak memiliki dasar hukum yang kuat, menambah beban hukum bagi mantan presiden yang sudah berada di tengah sorotan publik.
Kesimpulan
Serangkaian tindakan Trump—dari kebijakan militer di Hormuz, gambar AI yang meniru Yesus, hingga pertikaian dengan Paus Leo—menunjukkan pola kepemimpinan yang konfrontatif dan memicu ketegangan di tingkat internasional maupun domestik. Reaksi keras dari tokoh konservatif, gereja, dan pemimpin Iran menandakan bahwa langkah-langkah tersebut bukan sekadar isu politik biasa, melainkan menimbulkan implikasi luas bagi citra Amerika, hubungan diplomatik, serta dinamika pemilih di pemilihan berikutnya.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet