LintasWarganet.com – 24 Mei 2026 | Juru bahasa dan wartawan dari Republika yang ikut serta dalam aksi Global Sumud Flotilla 2.0 melaporkan bahwa mereka mengalami penahanan selama lebih dari dua hari oleh pasukan Angkatan Pertahanan Israel (IDF) setelah kapal mereka disita di perairan internasional.
Rombongan yang terdiri dari sekitar 90 relawan, aktivis, dan jurnalis tersebut menolak mengonsumsi makanan yang disediakan oleh tentara Israel. Sebagai bentuk protes, mereka memilih untuk tidak makan dan menolak segala bentuk bantuan makanan yang dianggap bersumber dari pihak yang menahan mereka.
Selama masa penahanan, para jurnalis melaporkan kondisi sarana makan yang terbatas serta tekanan psikologis untuk menerima makanan yang diberikan. Mereka menegaskan bahwa aksi mogok makan merupakan bagian dari strategi non‑kekerasan yang bertujuan menyoroti penindasan terhadap hak kemanusiaan dan kebebasan pers di wilayah konflik.
Setelah dibebaskan, kedua wartawan Republika menyatakan bahwa pengalaman tersebut memperkuat komitmen mereka untuk melaporkan fakta tanpa memihak. Mereka juga menuntut agar komunitas internasional memberikan perhatian lebih terhadap perlakuan terhadap media di zona konflik serta menolak segala bentuk pemaksaan makanan yang dianggap sebagai alat politik.
Insiden ini menambah daftar panjang kasus di mana jurnalis menjadi sasaran dalam operasi militer, menimbulkan kekhawatiran bagi organisasi pers global. Beberapa lembaga hak asasi manusia telah menyerukan investigasi independen terhadap penahanan dan praktik penolakan makanan yang dilakukan oleh pasukan IDF.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet