LintasWarganet.com – 19 Juni 2026 | Film aksi thriller bergengsi The Furious resmi meluncur ke bioskop Indonesia pada 17 Juni 2026, membawa gelombang antusiasme yang belum pernah terjadi sebelumnya. Disutradarai oleh Kenji Tanigaki, sutradara yang dikenal lewat proyek‑proyek laga Asia berkelas, film ini mengusung cerita tentang seorang ayah yang melawan jaringan perdagangan anak internasional. Kombinasi aksi memukau, dramatisasi emosional, serta kolaborasi lintas negara menjadikan The Furious sebagai sorotan utama pada musim tayang pertengahan tahun ini.
Plot Inti: Perjuangan Seorang Ayah
Tokoh utama, Wang Wei (diperankan oleh Xie Miao), hidup sederhana bersama istri dan putrinya, Rainy (Yang Enyou). Ketegangan mulai memuncak ketika Rainy diculik oleh sindikat perdagangan manusia. Upaya resmi untuk mendapatkan bantuan terhambat oleh korupsi aparat, memaksa Wang Wei menempuh jalur pribadi. Dengan tekad yang tak tergoyahkan, ia memasuki dunia kriminal yang gelap, menelusuri jejak pelaku sambil berhadapan dengan bahaya yang semakin mengancam.
Dalam perjalanannya, Wang Wei bertemu dengan Navin (Joe Taslim), seorang jurnalis investigasi yang juga memiliki kepentingan pribadi: istri Navin menghilang saat menyelidiki jaringan serupa. Kedua pria ini menyatukan kekuatan, menembus lapisan-lapisan kejahatan hingga mencapai konfrontasi akhir yang menegangkan.
Penampilan Aktor dan Karakter
Barisan pemain menampilkan talenta dari berbagai negara Asia. Selain Xie Miao dan Joe Taslim, film ini menampilkan Yayan Ruhian sebagai antagonis utama, yang menambah intensitas pertarungan dengan gaya bela diri khasnya. Jeeja Yanin, Brian Le, Joey Iwanaga, serta Sahajak Boonthanakit melengkapi ensemble internasional, memberikan nuansa multikultural yang memperkaya alur cerita.
- Xie Miao – Wang Wei, ayah yang bisu namun mematangkan aksi.
- Joe Taslim – Navin, jurnalis dengan misi pribadi.
- Yayan Ruhian – Pemimpin sindikat, menampilkan keahlian silat yang mematikan.
- Yang Enyou – Rainy, korban penculikan yang menjadi pemicu aksi.
- Jeeja Yanin – Matia, karakter yang membantu mengungkap jaringan.
Koreografi Laga yang Menjadi Daya Tarik Utama
Kenji Tanigaki menggandeng fight choreographer Kensuke Sonomura untuk merancang urutan pertarungan yang hampir menyerupai tarian agresif. Dari adegan perkelahian di arena tinju malam hingga pertempuran di pasar tradisional, setiap aksi ditata dengan ritme yang menegangkan dan visual yang jelas. Penonton dibawa merasakan sensasi roller coaster, di mana setiap hentakan dan pukulan terasa realistis karena sebagian besar adegan dilakukan tanpa CGI berlebih.
Penggunaan musik jedak‑jeduk yang selaras dengan gerakan tubuh menambah ketegangan, menciptakan atmosfer yang memaksa kursi penonton bergetar. Eskalasi pertarungan mencapai puncaknya dalam duel final di sebuah gudang industri, di mana Wang Wei harus melawan lawan bersenjata lengkap sambil melindungi Navin yang terluka.
Respons Kritikus dan Publik
Sejak diputar di program Midnight Madness Toronto International Film Festival pada September 2025, film ini meraih pujian luas. Rotten Tomatoes mencatat rating 100 % berdasarkan ulasan kritikus, menegaskan bahwa The Furious berhasil menggabungkan aksi brutal dengan kedalaman emosional. Di tanah air, antusiasme penonton terlihat jelas; tiket terjual cepat, dan media sosial dipenuhi komentar yang menyoroti kualitas pertarungan serta chemistry antara Joe Taslim dan Yayan Ruhian.
Walaupun alur cerita dianggap generik, tidak ada celah logika (plot hole) yang mengganggu, sehingga penonton dapat menikmati film tanpa rasa terganggu. Kritik menyebutkan dialog bahasa Inggris yang kadang terdengar dubbing, namun hal tersebut tidak mengurangi daya tarik utama film, yaitu aksi intens dan visual yang memukau.
Produksi dan Kolaborasi Internasional
Produser dari Hong Kong bekerja sama dengan mitra internasional, memastikan kualitas produksi setara Hollywood. Penggunaan lokasi syuting di berbagai negara Asia menambah keaslian latar belakang cerita. Tanigaki, yang pernah menyutradarai adaptasi live‑action Rurouni Kenshin, mengaplikasikan pendekatan yang sama dalam menggabungkan teknik bela diri tradisional dengan teknologi sinematik modern.
Film berdurasi sekitar 113 menit ini tidak memberi ruang bagi penonton untuk beristirahat; setiap menit dipenuhi aksi yang menegangkan, memastikan pengalaman menonton yang tak terlupakan.
Kesimpulannya, The Furious bukan sekadar film laga biasa. Ia menyajikan perpaduan antara drama keluarga, kritik sosial terhadap perdagangan manusia, dan koreografi pertarungan yang menjadi karya seni visual. Bagi penggemar aksi Asia, film ini wajib ditonton di layar lebar, karena hanya di bioskop kehadiran gerakan tubuh yang brutal dapat dirasakan sepenuhnya.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet