SPPG Tolak Insentif Rp6 Juta per Hari Selama Libur Sekolah
SPPG Tolak Insentif Rp6 Juta per Hari Selama Libur Sekolah

SPPG Tolak Insentif Rp6 Juta per Hari Selama Libur Sekolah

LintasWarganet.com – 18 Juni 2026 | Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyatakan tidak akan menerima insentif sebesar enam juta rupiah per hari selama masa libur sekolah. Keputusan ini diambil seiring penghentian sementara distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang biasanya berjalan pada hari sekolah.

Program MBG, yang dibiayai oleh pemerintah, bertujuan memberikan makanan bergizi kepada siswa di sekolah dasar dan menengah. Selama masa aktif, SPPG mendapatkan insentif harian untuk menutupi biaya logistik, transportasi, dan administrasi dalam menyalurkan makanan tersebut.

Pada akhir pekan dan hari libur, distribusi makanan dihentikan, namun insentif tetap dibayarkan. Pemerintah menilai hal ini tidak efisien, sehingga memutuskan agar insentif tidak diberikan selama periode libur. Menurut Kementerian Pendidikan, dana yang sebelumnya dialokasikan untuk insentif dapat dialihkan ke kebutuhan operasional lain, seperti penyediaan bahan baku makanan ketika program kembali aktif.

  • Insentif harian: Rp6.000.000
  • Durasi libur sekolah: biasanya 2-3 bulan per tahun
  • Tujuan penghentian: mengoptimalkan penggunaan anggaran
  • Pihak terkait: Kementerian Pendidikan, Kementerian Keuangan, serta Dinas Sosial daerah

Pejabat SPPG menegaskan bahwa penolakan insentif tidak akan memengaruhi kualitas layanan ketika program MBG kembali berjalan. “Kami tetap berkomitmen menyediakan makanan bergizi kepada anak‑anak sekolah begitu masa belajar dimulai kembali,” ujar Direktur SPPG dalam konferensi pers.

Para pengamat menilai keputusan ini dapat menurunkan beban fiskal pemerintah, namun juga menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan logistik ketika masa libur berakhir. Mereka menyarankan agar ada mekanisme koordinasi yang lebih baik antara SPPG dan instansi terkait guna memastikan transisi yang mulus.

Selama libur, SPPG akan fokus pada kegiatan persiapan, termasuk pelatihan tenaga kerja, perencanaan menu, dan pengadaan bahan baku. Dengan demikian, program MBG diharapkan dapat diluncurkan kembali dengan lebih efisien dan tepat sasaran ketika siswa kembali ke kelas.