LintasWarganet.com – 07 April 2026 | Dalam laga penentu tempat di Putaran Play‑off Kualifikasi Piala Dunia 2026, tim nasional Italia harus menelan kepahitan setelah terhenti oleh Bosnia‑Herzegovina di Stadion Bilino Polje, Zenica, pada 31 Maret 2026. Pertandingan yang berlangsung sengit berakhir imbang 1‑1 setelah perpanjangan waktu, memaksa kedua tim menempuh adu penalti.
Italia, yang mengandalkan kiper berpengalaman Gianluigi Donnarumma, sempat memimpin 1‑0 berkat gol set‑piece pada menit ke‑55. Namun Bosnia berhasil menyamakan kedudukan lewat serangan balik cepat pada menit ke‑78. Kedua tim pun dipaksa bermain dengan sepuluh pemain setelah Italia kehilangan salah satu beknya karena kartu merah kedua babak pertama.
Adu Penalti yang Menegangkan
Pada babak adu penalti, tekanan meningkat. Donnarumma, yang menjadi pahlawan Italia pada final Euro 2020, diharapkan kembali menampilkan aksi gemilang. Namun, dalam lima tendangan pertama, ia gagal menghentikan dua tembakan Bosnia, sementara Italia hanya berhasil mengeksekusi tiga dari lima percobaan.
Keputusan akhir jatuh pada sebuah insiden tak terduga yang mencuat dari sudut lapangan: seorang ball boy berusia 14 tahun, Afan Cizmic, mengaku mengambil “cheat sheet” atau catatan taktik penalti yang disembunyikan di bawah handuk Donnarumma. Catatan tersebut berisi indikasi arah tendangan yang biasanya digunakan sebagai referensi terakhir kiper.
Pengakuan Ball Boy dan Reaksi Donnarumma
Menurut keterangan yang disampaikan Cizmic kepada stasiun televisi lokal, ia melihat sebuah kertas di samping handuk kiper, lalu mengambil dan menyembunyikannya. “Saya langsung menyadari apa itu. Tanpa daftar itu, Donnarumma harus mengandalkan insting,” ujar Cizmic.
Setelah menyadari catatan tersebut hilang, Donnarumma terlihat marah dan melontarkan teriakan kepada kiper Bosnia, Nikola Vasilj, yang kemudian menjadi sorotan media sosial. Pada saat itu, Donnarumma menuduh Vasilj mencuri catatan tersebut, namun kemudian terungkap bahwa tuduhan itu tidak beralasan.
Kontroversi dan Pendapat Publik
Insiden ini memicu perdebatan luas di antara netizen dan pengamat sepak bola. Sebagian besar komentar menilai tindakan Cizmic sebagai “unsporting behaviour” dan menuntut sanksi tegas dari FIFA. Di sisi lain, sejumlah suporter Bosnia justru menganggap aksi tersebut sebagai “kecerdikan” dan mengusulkan agar ball boy tersebut dijadikan maskot tim pada Piala Dunia.
- Omar (komentar 19:14): “Selalu mencari alasan untuk setiap kekalahan Italia.”
- Aureliano (komentar 19:34): “Bosnia dulu dituduh spionase, kini kembali dengan cara lain.”
- Vittorio (komentar 21:51): “Italia pernah membantu Bosnia dengan fasilitas pelatihan, jadi jangan terlalu keras menilai.”
Sejumlah analis menilai bahwa kehilangan catatan taktik memang dapat memengaruhi performa Donnarumma, meski kiper berpengalaman tersebut tetap memiliki insting yang tajam. Namun, fakta bahwa Italia gagal memanfaatkan keunggulan satu pemain lebih (sebelum kartu merah) menambah beban pada kritik terhadap manajer tim.
Langkah Selanjutnya
FIFA dijadwalkan akan membuka penyelidikan resmi terkait pelanggaran aturan fair play yang terjadi di Zenica. Sementara itu, Italia harus menerima kegagalan dan menyiapkan diri untuk babak kualifikasi selanjutnya, sementara Bosnia melaju ke babak selanjutnya dengan harapan mengulangi keberhasilan mereka di turnamen internasional.
Skandal ini menegaskan kembali betapa detail kecil di balik layar—seperti catatan penalti—bisa berakibat besar pada hasil akhir sebuah pertandingan. Bagi Donnarumma, insiden ini menjadi pelajaran pahit bahwa bahkan pemain terbaik pun dapat terpengaruh oleh faktor eksternal yang tak terduga.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet