Sejumlah Tokoh Berkumpul di Paramadina, Sikapi Sorotan Media Asing tentang Kondisi Ekonomi
Sejumlah Tokoh Berkumpul di Paramadina, Sikapi Sorotan Media Asing tentang Kondisi Ekonomi

Sejumlah Tokoh Berkumpul di Paramadina, Sikapi Sorotan Media Asing tentang Kondisi Ekonomi

LintasWarganet.com – 23 Mei 2026 | The Economist baru-baru ini menulis artikel tajam yang menilai arah kebijakan pemerintah Indonesia sebagai faktor utama menurunnya prospek ekonomi nasional. Kritik tersebut menyoroti pertumbuhan yang melambat, defisit fiskal yang mengkhawatirkan, serta ketidakpastian investasi asing. Tulisan itu memicu kegelisahan di kalangan akademisi, ekonom, dan pengamat kebijakan di dalam negeri.

Menanggapi sorotan tersebut, Universitas Paramadina menyelenggarakan diskusi publik yang dihadiri oleh sejumlah tokoh terkemuka, antara lain profesor ekonomi dari universitas terkemuka, peneliti lembaga think‑tank, serta mantan pejabat pemerintah. Acara ini bertujuan mengkaji secara mendalam argumentasi The Economist dan mencari solusi kebijakan yang lebih responsif.

Poin‑poin utama yang dibahas meliputi:

  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan turun menjadi di bawah 5% pada tahun depan.
  • Kenaikan defisit anggaran yang diperkirakan melampaui batas aman 3% dari Produk Domestik Bruto.
  • Inflasi yang masih berada di atas target bank sentral, menambah beban konsumen.
  • Penurunan arus investasi asing langsung akibat persepsi risiko politik dan regulasi yang berubah-ubah.
  • Kebutuhan reformasi struktural di sektor energi, infrastruktur, dan birokrasi publik.

Para peserta menegaskan bahwa kritik asing tidak boleh dijadikan satu‑satunya acuan, namun tetap penting untuk dijadikan sinyal perbaikan. Beberapa rekomendasi yang muncul antara lain memperkuat disiplin fiskal melalui reformasi pajak, meningkatkan transparansi kebijakan moneter, serta mempercepat program digitalisasi layanan publik untuk menurunkan biaya birokrasi.

Selain itu, para pembicara menyoroti pentingnya strategi komunikasi yang lebih proaktif kepada publik internasional, guna menyeimbangkan narasi negatif dengan pencapaian nyata pemerintah. Mereka sepakat bahwa dialog lintas‑sektor seperti ini harus menjadi agenda reguler untuk memastikan kebijakan ekonomi tetap adaptif terhadap tantangan global.