Sampah Dapur Jadi Cuan, Mahasiswa UNM Ciptakan Peluang Usaha dari Limbah Organik
Sampah Dapur Jadi Cuan, Mahasiswa UNM Ciptakan Peluang Usaha dari Limbah Organik

Sampah Dapur Jadi Cuan, Mahasiswa UNM Ciptakan Peluang Usaha dari Limbah Organik

LintasWarganet.com – 26 Juni 2026 | Mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) meluncurkan usaha inovatif yang mengubah sampah dapur menjadi produk bernilai ekonomi, menjawab tantangan limbah organik rumah tangga di Indonesia.

Limbah organik, seperti sisa sayur, buah, dan kulit telur, selama ini sering berakhir di tempat pembuangan akhir, menyebabkan pencemaran dan kehilangan potensi sumber daya. Tim mahasiswa yang dipimpin oleh Rina Andriani (23) menemukan cara mengolah sampah tersebut menjadi kompos organik berkualitas dan bahan bakar biogas melalui proses pengomposan terkontrol.

Proses pengolahan dimulai dengan pemilahan sampah dapur, pencucian, dan penghancuran menjadi serpihan halus. Selanjutnya, serpihan dicampur dengan bahan pengikat alami dan dimasukkan ke dalam wadah kompos yang dipantau suhu, kelembaban, serta kadar oksigen selama 4–6 minggu. Hasilnya adalah kompos organik yang kaya nutrisi dan dapat dipasarkan kepada petani, pekebun kota, serta komunitas pertanian organik.

  • Kompos organik siap pakai: dipasarkan dalam kantong 5 kg dengan label ramah lingkungan.
  • Biogas mini: hasil fermentasi limbah cair yang dapat digunakan untuk memasak atau menggerakkan generator listrik kecil.
  • Pelatihan pengolahan sampah: paket edukasi bagi warga dan pelaku usaha kecil.

Usaha ini tidak hanya memberikan pendapatan tambahan bagi mahasiswa, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bagi warga sekitar. Dalam enam bulan pertama, tim mencatat penjualan kompos mencapai 1.200 kg dan menghasilkan 350 m³ biogas, cukup untuk memasak makanan bagi 150 keluarga.

Keberhasilan proyek ini didukung oleh pendanaan awal dari Program Inovasi Mahasiswa (PIM) dan bimbingan dosen Fakultas Pertanian UNM. Selain itu, kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Jakarta memungkinkan tim mengakses fasilitas pengujian kualitas kompos dan biogas.

Pengalaman ini memperkuat kemampuan mahasiswa menciptakan solusi kreatif yang berkelanjutan, sekaligus menumbuhkan kesadaran pentingnya pengelolaan limbah organik di kalangan masyarakat luas.