Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Rate Naik, Daya Beli Tertekan
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Rate Naik, Daya Beli Tertekan

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Rate Naik, Daya Beli Tertekan

LintasWarganet.com – 04 Juni 2026 | Pada minggu ini, nilai tukar rupiah menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, menandai terburuknya kurs sejak krisis finansial 2020. Penguatan dolar AS dan penurunan aliran modal asing menjadi penyebab utama melemahnya rupiah.

Bank Indonesia (BI) merespon melemahnya nilai tukar dengan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 6,00 %. Kenaikan suku bunga dimaksudkan untuk menahan arus keluar modal serta menstabilkan inflasi, namun berpotensi menambah beban biaya pinjaman bagi konsumen dan pelaku usaha.

Berikut beberapa dampak yang diproyeksikan:

  • Harga barang impor, terutama bahan baku industri, akan naik, menambah tekanan inflasi.
  • Biaya pinjaman kredit konsumen, termasuk kredit kendaraan bermotor, akan meningkat karena suku bunga acuan yang lebih tinggi.
  • Daya beli masyarakat menurun, terutama pada segmen menengah ke bawah yang mengandalkan pendapatan tetap.

Khusus sektor otomotif, kenaikan suku bunga dan pelemahan rupiah dapat memicu penurunan penjualan kendaraan secara kredit. Dealer dan lembaga pembiayaan diperkirakan akan menyesuaikan skema angsuran, sehingga konsumen harus menyiapkan dana muka yang lebih besar atau memilih tenor yang lebih pendek.

Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan terus memantau dinamika pasar valuta asing serta mengimplementasikan kebijakan moneter yang seimbang antara stabilisasi kurs dan perlindungan daya beli masyarakat.