Rupiah Sentuh Rp17.728 per Dolar AS, Dipicu Dampak Konflik Timur Tengah
Rupiah Sentuh Rp17.728 per Dolar AS, Dipicu Dampak Konflik Timur Tengah

Rupiah Sentuh Rp17.728 per Dolar AS, Dipicu Dampak Konflik Timur Tengah

LintasWarganet.com – 19 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah pada Selasa, 11 Februari 2024, melemah 60 poin atau sekitar 0,34 persen menjadi Rp17.728 per dolar AS. Penurunan ini menandai level terendah yang belum tercapai sejak awal tahun 2022 dan dipicu oleh gejolak geopolitik di Timur Tengah.

Kondisi pasar menunjukkan bahwa konflik yang sedang berlangsung di kawasan tersebut meningkatkan ketidakpastian global, khususnya pada komoditas energi. Harga minyak mentah mentah Brent naik lebih dari 3 persen, menambah tekanan pada mata uang negara berkembang yang bergantung pada impor energi.

Beberapa faktor utama yang berkontribusi pada pelemahan rupiah antara lain:

  • Gejolak harga minyak: Kenaikan harga minyak dunia meningkatkan beban impor energi Indonesia, memicu aliran keluar modal.
  • Sentimen pasar global: Investor cenderung beralih ke aset safe‑haven seperti dolar AS, sehingga permintaan rupiah menurun.
  • Data ekonomi domestik: Pertumbuhan ekonomi kuartal pertama diproyeksikan melambat, menambah kekhawatiran tentang prospek inflasi.
  • Kebijakan moneter: Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan, namun belum ada sinyal kebijakan yang lebih ketat untuk menahan depresiasi.

Bank Indonesia (BI) dalam pernyataan singkat menyebut bahwa fluktuasi nilai tukar merupakan respons normal terhadap dinamika pasar internasional. BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar bila diperlukan, sambil terus memantau perkembangan situasi geopolitik.

Para analis memperkirakan bahwa jika konflik di Timur Tengah berlanjut, volatilitas pasar dapat terus meningkat. Mereka menyarankan pelaku usaha untuk mengelola risiko nilai tukar melalui hedging atau diversifikasi sumber bahan baku. Di sisi lain, jika ketegangan mereda, rupiah berpotensi menguat kembali dalam jangka menengah.

Secara historis, rupiah pernah mencapai level Rp17.000 per dolar pada awal 2022, namun berhasil kembali menguat setelah intervensi BI dan perbaikan sentimen global. Pada 2024, faktor eksternal seperti konflik Timur Tengah dan kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi penentu utama pergerakan nilai tukar.

Pengamat ekonomi menilai bahwa stabilitas nilai tukar akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan fiskal pemerintah, kondisi perdagangan luar negeri, serta dinamika geopolitik global. Oleh karena itu, pemantauan terus‑menerus terhadap perkembangan di kawasan Timur Tengah menjadi penting bagi keputusan kebijakan moneter dan strategi bisnis di Indonesia.