Rupiah Dianggap Undervalued, BI Buka Peluang Penguatan Meski Ditekan Geopolitik

LintasWarganet.com – 24 April 2026 | Bank Indonesia menilai bahwa nilai tukar rupiah saat ini masih berada pada posisi undervalued dibandingkan nilai fundamental ekonomi Indonesia. Penilaian ini menjadi dasar bagi otoritas moneter untuk mempertimbangkan langkah penguatan mata uang di tengah tekanan eksternal.

Tekanan geopolitik, termasuk ketegangan di kawasan Asia Pasifik dan fluktuasi kebijakan moneter negara maju, memberi beban tambahan pada pasar valuta asing. Meskipun demikian, Bank Indonesia menyatakan kesiapan untuk menstabilkan nilai tukar melalui instrumen kebijakan yang ada.

  • Intervensi di pasar spot bila diperlukan
  • Peningkatan cadangan devisa sebagai buffer
  • Penggunaan operasi pasar terbuka untuk menyesuaikan likuiditas
  • Koordinasi dengan otoritas fiskal untuk menjaga keseimbangan makro

Berikut ini adalah perkiraan pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS dalam enam bulan terakhir, yang menunjukkan kecenderungan penurunan nilai tukar (penguatan rupiah):

Bulan Kurs (IDR/USD)
November 2023 15.650
Desember 2023 15.580
Januari 2024 15.540
Februari 2024 15.470
Maret 2024 15.420
April 2024 15.380

Penguatan rupiah yang diharapkan dapat menurunkan biaya impor, khususnya bahan baku energi dan barang modal, sekaligus menstabilkan inflasi. Namun, otoritas tetap waspada terhadap aliran modal spekulatif yang dapat memicu volatilitas.

Bank Indonesia menekankan bahwa kebijakan penguatan tidak akan bersifat unilateral, melainkan akan dipadukan dengan pemantauan ketat terhadap kondisi global serta indikator domestik seperti neraca perdagangan, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.

Dengan dasar penilaian undervalued dan kebijakan yang fleksibel, otoritas moneter berharap dapat menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung pemulihan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik.