LintasWarganet.com – 15 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah terdepresiasi tajam hingga mencapai Rp 17.614 per dolar Amerika Serikat, menimbulkan keprihatinan serius di kalangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Anggota DPR menilai penurunan nilai tukar dapat menambah beban biaya hidup, khususnya pada sektor pangan yang sensitif terhadap fluktuasi mata uang.
DPR mengidentifikasi beberapa dampak potensial yang dapat memicu inflasi pangan:
- Kenaikan harga bahan baku impor, seperti pupuk, beras, dan minyak goreng, yang secara langsung meningkatkan biaya produksi.
- Penurunan daya beli konsumen, terutama rumah tangga berpendapatan rendah, yang rentan terhadap perubahan harga makanan pokok.
- Peningkatan tekanan pada anggaran pemerintah untuk subsidi pangan, yang dapat mengganggu stabilitas fiskal.
Dalam rangka menahan dampak tersebut, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) telah mengaktifkan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar, antara lain:
- Peningkatan intervensi di pasar valuta asing melalui penjualan dolar cadangan.
- Penerapan kebijakan moneter yang lebih ketat untuk menurunkan tekanan inflasi.
- Koordinasi dengan kementerian terkait untuk mengoptimalkan pasokan pangan domestik dan mengurangi ketergantungan impor.
Para anggota DPR menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal guna melindungi konsumen dari lonjakan harga pangan. Mereka juga menyerukan transparansi dalam komunikasi kebijakan agar pasar dapat menyesuaikan ekspektasi secara lebih terkendali.
Jika nilai tukar tidak dapat dipulihkan dalam jangka pendek, DPR memperkirakan risiko inflasi pangan dapat meningkat, menggerus daya beli masyarakat, dan menambah beban sosial ekonomi secara keseluruhan.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet