Roberto De Zerbi Menggugat Nasib Tottenham: Perang Terakhir melawan Everton untuk Selamat dari Degradasi
Roberto De Zerbi Menggugat Nasib Tottenham: Perang Terakhir melawan Everton untuk Selamat dari Degradasi

Roberto De Zerbi Menggugat Nasib Tottenham: Perang Terakhir melawan Everton untuk Selamat dari Degradasi

LintasWarganet.com – 24 Mei 2026 | Tottenham Hotspur berada di ambang sejarah kelam setelah hampir lima puluh tahun menghindari degradasi. Pada 24 Mei 2026, klub asal London ini harus mengandalkan taktik dan semangat baru yang dibawa oleh manajer Italia, Roberto De Zerbi, untuk menumpaskan ancaman penurunan ke Championship. De Zerbi, yang ditunjuk pada akhir Maret 2026, menghabiskan beberapa minggu terakhir menata tim, mengatasi cedera pemain kunci, dan menenangkan suporter yang marah karena keputusan kontroversial kapten Cristian Romero.

Tekanan Menjelang Pertandingan Penentu

Spurs berada pada posisi 17, hanya dua poin di atas zona degradasi yang ditempati West Ham United. Dengan selisih gol yang menguntungkan, satu hasil imbang saja melawan Everton sudah cukup untuk memastikan Tottenham tetap di Liga Primer. De Zerbi menekankan pentingnya “darah, karakter, dan semangat” dalam konferensi pers pra‑pertandingan pada 22 Mei, menegaskan bahwa tidak ada trofi atau bonus yang dapat menandingi masa depan klub.

“Kami harus bermain dengan darah, karakter, dan semangat karena ini adalah final,” ujar De Zerbi. “Tidak ada trofi, tidak ada bonus. Ada sejarah klub, kebanggaan pemain, dan martabat setiap orang yang terlibat.”

Kontroversi Cristian Romero

Di luar lapangan, kontroversi terus menggelitik. Cristian Romero, bek tengah yang menjadi kapten, memutuskan untuk kembali ke Argentina pada pekan terakhir demi menyaksikan tim masa kecilnya, Belgrano, bertanding melawan River Plate dalam laga penentu gelar. De Zerbi menegaskan keputusan tersebut berada di bawah persetujuan staf medis, meski mendapat sorotan keras dari suporter dan mantan pemain klub, termasuk legenda Glenn Hoddle.

“Keputusan itu diambil bersama staf medis. Saya tidak bisa mengubah hasilnya, apakah Romero berada di stadion atau tidak,” kata De Zerbi. “Saya mengerti kemarahan pendukung, namun fokus kami tetap pada pertandingan.”

Strategi Formasi dan Pilihan Pemain

Menjelang laga penutup, De Zerbi harus menyusun susunan pemain yang dapat menyeimbangkan pertahanan kokoh dan serangan efektif. Prediksi media lokal menyoroti kemungkinan formasi 4‑2‑3‑1 dengan Antonin Kinsky sebagai kiper, lini belakang yang terdiri dari Pedro Porro, Danso, Van de Ven, dan Udogie. Di lini tengah, Yves Bissouma diperkirakan akan kembali menggantikan Joao Palhinha untuk menambah kekuatan defensif, sementara Rodrigo Bentancur tetap menjadi penggerak serangan.

Di sektor serang, Randal Kolo Muani, Lucas Moura (diwakili oleh Lucas Bergvall dalam skenario alternatif), dan Richarlison menjadi pilihan utama. Dominic Solanke, yang pulih dari cedera hamstring, dan James Maddison, yang hanya bermain singkat pada laga Chelsea, juga berada di antara opsi De Zerbi. Di sayap kanan, Djed Spence—setelah pulih dari patah rahang—bersaing dengan Pedro Porro untuk tempat bermain.

Motivasi dan Mentalitas Tim

De Zerbi menekankan bahwa tekanan dapat menjadi katalis positif. “Tekanan itu baik, tergantung bagaimana Anda memikirkannya. Kami harus tetap kuat, positif, dan belajar dari momen sulit,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keberadaan pemain muda seperti Archie Gray dan Pape Matar Sarr dapat menambah energi tambahan pada babak akhir pertandingan.

Selain taktik, De Zerbi menekankan pentingnya disiplin mental. “Kami tidak memiliki waktu untuk terbuang energi pada hal‑hal di luar lapangan. Fokus kami hanyalah pada 90 menit selanjutnya,” tegasnya.

Harapan dan Skenario Akhir

Jika Tottenham berhasil meraih kemenangan atau bahkan hasil imbang melawan Everton, mereka akan mengamankan tempat di Liga Primer untuk musim berikutnya, sementara West Ham yang berada di urutan 18 harus mengandalkan hasil positif melawan Leeds United. Namun, kegagalan di Stamford Bridge dapat menjerumuskan Spurs ke dalam zona degradasi pertama sejak 1977.

Dengan kepemimpinan De Zerbi yang mengedepankan prinsip moral dan taktik pragmatis, harapan terakhir bagi Tottenham terletak pada kemampuan tim untuk mengeksekusi rencana pada hari penentuan. Semua mata kini tertuju pada London, menanti apakah De Zerbi dapat menulis bab baru dalam sejarah klub atau harus menyaksikan turun ke divisi kedua.