LintasWarganet.com – 06 April 2026 | Ramadhan Sananta, penyerang muda asal DPMM FC, kembali menjadi sorotan utama setelah penampilan yang kurang memuaskan di FIFA Series 2026. Meskipun berusia 23 tahun, Sananta diharapkan menjadi salah satu pilar serangan Tim Nasional Indonesia. Namun, statistik musim ini menunjukkan ia masih belum mampu menampilkan performa yang diharapkan.
Statistik Musim Ini: Angka yang Membutuhkan Penyempurnaan
Selama kompetisi liga domestik dan internasional, Ramadhan Sananta mencatatkan dua gol dan satu assist. Angka tersebut berada di belakang rekan-rekan penyerangnya dalam skuad John Herdman, seperti Boaz Solossa yang meski berusia 40 tahun mampu menghasilkan lima kontribusi gol/assist dalam 19 laga Liga 2, atau Jens Raven yang mencetak satu gol dan dua assist.
Perbandingan singkat menegaskan kesenjangan: Ole Romeny belum mencetak gol maupun assist; Mauro Zijlstra juga tanpa angka; Ragnar Oratmangoen hanya satu gol; sementara Dean Zandbergen, striker keturunan Indonesia di Belanda, sudah mengoleksi 11 gol dan tiga assist. Dari data tersebut, jelas bahwa Sananta masih berada pada level menengah dan harus meningkatkan efisiensi akhir.
Latar Belakang dan Peran di Tim Nasional
Sananta dipanggil ke Timnas Indonesia sebagai salah satu alternatif utama di lini depan, mengisi posisi yang selama ini dianggap rapuh. Pada FIFA Series 2026, Timnas menorehkan kemenangan 4-0 atas Saint Kitts and Nevis, namun gagal mengamankan gelar setelah kalah tipis 0-1 melawan Bulgaria. Kekalahan tersebut sebagian besar disebabkan oleh kurangnya penyelesaian akhir, di mana Sananta dan rekan-rekannya tidak mampu mengubah peluang menjadi gol.
Pelatih John Herdman menilai bahwa lini serang tim masih memerlukan “finishing” yang lebih tajam. Dalam beberapa kesempatan, Sananta ditugaskan sebagai ujung tombak, namun tekanan dari pertahanan lawan dan kurangnya kreativitas dalam ruang terbatas membuatnya sering terjebak.
Persaingan dengan Pilihan Naturalisasi
Masalah lain yang menambah beban Sananta adalah munculnya opsi naturalisasi. Pemain keturunan Indonesia yang berkarier di luar negeri, seperti Dean Zandbergen (VVV‑Venlo) dan Luke Vickery (Macarthur FC), kini menjadi kandidat potensial. Zandbergen, misalnya, mencetak hattrick dalam satu laga Liga 2 Belanda dan sudah menorehkan 11 gol musim ini. Sementara Vickery, meski masih berusia 20 tahun, telah menunjukkan konsistensi dengan empat gol dan satu assist dalam 19 penampilan di A‑League Australia.
Jika proses naturalisasi berjalan lancar, mereka dapat menambah kedalaman skuad serang dan menurunkan tekanan pada Sananta. Namun, isu paspoortgate dan birokrasi masih menjadi kendala bagi pemain-pemain tersebut.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Performa Sananta
- Kualitas Persaingan Liga: DPMM FC berkompetisi di liga yang tidak seketat Liga 1 Indonesia atau liga-liga Eropa, sehingga tantangan yang dihadapi Sananta tidak selalu memaksa ia mengasah ketajaman akhir.
- Kurangnya Dukungan Kreatif: Dalam beberapa laga, Sananta tidak mendapatkan umpan-umpan terobosan yang memadai, mengakibatkan peluang yang kurang jelas.
- Tekanan Psikologis: Sebagai salah satu nama harapan, ekspektasi publik dan media menambah beban mental yang dapat memengaruhi konsentrasi di lapangan.
Langkah Perbaikan yang Dapat Diambil
Untuk mengoptimalkan potensi Sananta, beberapa langkah strategis perlu dipertimbangkan:
- Meningkatkan intensitas latihan penyelesaian akhir bersama striker lain, termasuk sesi khusus tembakan dari dalam dan luar kotak penalti.
- Memberikan lebih banyak menit bermain di kompetisi yang lebih kompetitif, misalnya melalui loan ke klub Liga 1 atau klub Asia Tenggara yang lebih menantang.
- Mengintegrasikan pemain kreatif seperti assist‑maker muda yang memiliki visi permainan tinggi, sehingga Sananta dapat menerima umpan-umpan yang lebih mematikan.
Selain itu, federasi dapat terus memantau proses naturalisasi pemain keturunan, memastikan bahwa pilihan alternatif tidak mengganggu perkembangan pemain lokal namun tetap menambah kualitas tim.
Dengan kombinasi peningkatan individu dan dukungan taktis dari pelatih, Ramadhan Sananta memiliki peluang besar untuk bangkit kembali dan menjadi aset berharga bagi Timnas Indonesia.
Secara keseluruhan, Sananta berada pada fase penting dalam kariernya. Statistik menunjukkan bahwa ia belum mencapai standar yang diharapkan, namun dengan kerja keras, bimbingan yang tepat, dan lingkungan kompetitif yang lebih menantang, ia dapat mengubah angka-angka tersebut menjadi kontribusi nyata di panggung internasional.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet