LintasWarganet.com – 04 Juni 2026 | Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, memberikan klarifikasi tegas pada Kamis, 4 Juni 2026, terkait dua isu utama yang tengah menguasai perbincangan publik. Pertama, ia menegaskan bahwa nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS belum mengancam kemampuan pemerintah membayar utang luar negeri. Kedua, ia membantah keras rumor yang menyebut dirinya akan mengundurkan diri dari jabatan Menteri Keuangan atau bahkan dipindahkan menjadi Gubernur Bank Indonesia.
Rupiah Melemah, Utang Tetap Terkendali
Purbaya menjelaskan bahwa sebagian besar surat utang pemerintah Indonesia bersifat fixed‑rate, artinya kupon atau bunga utang tidak berubah meski nilai tukar berfluktuasi. “Kuponnya konstan. Pada saat rupiah melemah, nilai pembayaran dalam rupiah memang meningkat, namun hal itu masih berada dalam rentang simulasi yang telah dipersiapkan pemerintah,” ujarnya kepada wartawan di Kompleks Parlemen.
Menurut data Bloomberg yang dirilis pada pukul 13.17 WIB, rupiah melemah 79 poin atau 0,44 persen menjadi Rp18.046 per dolar AS. Pemerintah menyiapkan asumsi nilai tukar sebesar Rp16.500 per dolar AS dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Simulasi skenario melemahnya rupiah, termasuk kenaikan harga bahan bakar minyak, telah dilakukan secara berulang untuk mengukur dampak terhadap beban pembayaran utang.
Purbaya menambahkan bahwa intervensi pasar obligasi senilai lebih dari Rp8 triliun telah dilakukan untuk menstabilkan imbal hasil surat utang negara, khususnya tenor 10 tahun yang tetap relatif stabil bahkan menunjukkan tren penurunan. Langkah ini, bersama dengan kebijakan Bank Indonesia yang terus melakukan intervensi valas melalui Non‑Deliverable Forward (NDF), spot, dan Domestic NDF, membantu menjaga kepercayaan investor dan aliran modal masuk.
Rumor Pengunduran Diri dan Penunjukan di BI Dibantah
Sejumlah media mengedarkan kabar bahwa Purbaya akan mundur dari jabatan Menteri Keuangan atau digantikan sebagai Gubernur Bank Indonesia. Menteri Keuangan menolak tuduhan tersebut melalui pesan singkat WhatsApp kepada redaksi CNN Indonesia, menegaskan “Tidak” atas kedua rumor itu.
Ia menegaskan bahwa ia tetap menjabat sejak dilantik pada September 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Selama hampir satu tahun, Purbaya telah berupaya memperkuat posisi keuangan negara, sekaligus mengedepankan gaya komunikasi yang dianggap ‘koboi’ namun tetap setia pada arahan presiden. “Saya serahkan urusan stabilitas nilai tukar kepada Bank Indonesia, mereka yang memiliki mandat penuh dalam kebijakan moneter,” katanya, menegaskan bahwa tidak ada langkah ekstra seperti rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan yang diperlukan saat ini.
Fundamental Rupiah Lebih Kuat Dari Kondisi Sekarang
Purbaya menyoroti bahwa secara fundamental nilai tukar rupiah seharusnya berada di bawah level Rp18.000, artinya rupiah masih memiliki potensi untuk menguat. Ia menekankan bahwa kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi, serta cadangan devisa yang kuat, menjadi penopang utama dalam menahan tekanan eksternal.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, juga mengonfirmasi bahwa bank sentral akan terus melakukan intervensi intensif di pasar valas, baik melalui transaksi NDF offshore, spot, maupun DNDF domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Kebijakan ini diharapkan dapat menahan volatilitas rupiah di tengah ketegangan geopolitik yang memengaruhi harga energi global.
Kesimpulan
Dengan nilai tukar rupiah yang masih berada dalam batas simulasi pemerintah, beban pembayaran utang luar negeri tidak akan mengganggu keseimbangan fiskal negara. Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmennya untuk melanjutkan reformasi ekonomi dan menolak segala spekulasi mengenai pengunduran diri atau pemindahan posisinya. Koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia tetap menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta kepercayaan pasar internasional terhadap obligasi Indonesia.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet