Program MBG Digeber, Ketimpangan Masih Terasa; Wilayah Rawan Stunting Belum Sepenuhnya Tersentuh

LintasWarganet.com – 11 Mei 2026 | Pemerintah meluncurkan Program Masyarakat Berbasis Gizi (MBG) dengan harapan dapat menurunkan angka stunting secara signifikan di seluruh wilayah Indonesia. Meskipun program ini sudah berjalan, masih terlihat kesenjangan dalam implementasinya, terutama di daerah-daerah dengan tingkat stunting tertinggi.

Data terbaru menunjukkan bahwa wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menjadi titik tertinggi dengan prevalensi stunting mencapai 37 persen. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional dan menandakan bahwa intervensi gizi di daerah tersebut belum optimal.

Provinsi Prevalensi Stunting (%)
Nusa Tenggara Timur 37
Jawa Barat 22
Sumatera Utara 25

Beberapa faktor yang memperparah ketimpangan antara lain akses terbatas ke layanan kesehatan, rendahnya kesadaran gizi di kalangan orang tua, serta keterbatasan infrastruktur pendukung. Di samping itu, koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan lembaga non‑pemerintah masih belum sepenuhnya terintegrasi.

Program MBG menitikberatkan pada peningkatan gizi anak usia dini melalui edukasi, penyediaan makanan bergizi, serta pemantauan pertumbuhan secara rutin. Namun, untuk menembus daerah rawan seperti NTT, diperlukan penyesuaian strategi yang lebih kontekstual, misalnya dengan melibatkan tokoh masyarakat setempat dan menyesuaikan pola makan lokal.

Keberhasilan program tidak hanya diukur dari penurunan angka stunting, tetapi juga dari peningkatan kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, evaluasi berkala dan penyesuaian kebijakan menjadi langkah penting agar manfaat MBG dapat dirasakan secara merata di seluruh pelosok negeri.