LintasWarganet.com – 27 April 2026 | Perang yang berlangsung antara Iran dan sekutunya telah menghabiskan hampir setengah dari persediaan rudal paling mahal milik Amerika Serikat (AS). Menurut data militer, sekitar 50% stok rudal tipe Tomahawk dan LRASM yang diproduksi dengan biaya tinggi telah digunakan dalam serangan udara dan pertahanan darat di wilayah Timur Tengah.
Para analis memperkirakan bahwa untuk mengisi kembali persediaan tersebut diperlukan waktu hingga empat tahun, mengingat proses produksi, pengujian, dan distribusi yang memakan waktu serta keterbatasan pabrik manufaktur. Keterlambatan ini dapat menurunkan kemampuan tempur AS dalam skala global, terutama bila menghadapi ancaman baru.
| Jenis Rudal | Stok Awal | Stok Tersisa | Persentase Kehilangan |
|---|---|---|---|
| Tomahawk | 1.200 unit | ≈600 unit | 50 % |
| LRASM | 350 unit | ≈175 unit | 50 % |
Situasi menjadi lebih kritis apabila konflik antara AS dan China pecah. Kedua negara memiliki kapabilitas militer yang saling melengkapi, dan perang terbuka dapat memaksa AS mengalihkan sumber daya yang sudah terbatas untuk menanggapi ancaman di Pasifik.
- Penggunaan rudal berbiaya tinggi secara berulang akan menguras anggaran pertahanan yang sudah diproyeksikan meningkat hingga 2 % dari PDB.
- Kebutuhan logistik dan suku cadang akan menambah beban industri pertahanan domestik.
- Kekurangan persediaan dapat memaksa AS mengandalkan sistem rudal yang lebih tua atau mengimpor dari sekutu, yang berpotensi menurunkan interoperabilitas.
- Keterlambatan pengisian ulang dapat memperlemah posisi tawar AS dalam negosiasi geopolitik dengan China.
Para pakar menyarankan agar Washington mempercepat program produksi dan mengeksplorasi alternatif teknologi seperti rudal hipersonik atau sistem pertahanan berbasis laser, yang dapat mengurangi ketergantungan pada persediaan konvensional. Selain itu, diplomasi militer harus diintensifkan untuk mencegah eskalasi konflik yang dapat menjerumuskan kedua superpower ke dalam perang berkepanjangan.
Dengan stok rudal termahal yang kini hanya setengah, tekanan pada kebijakan pertahanan AS meningkat secara signifikan. Langkah selanjutnya akan menentukan apakah AS mampu mempertahankan keunggulan militer di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet