Penguatan Rupiah Tak Bisa Hanya Andalkan Intervensi BI, Ekonom Minta Eksportir Tidak Menahan Valas
Penguatan Rupiah Tak Bisa Hanya Andalkan Intervensi BI, Ekonom Minta Eksportir Tidak Menahan Valas

Penguatan Rupiah Tak Bisa Hanya Andalkan Intervensi BI, Ekonom Minta Eksportir Tidak Menahan Valas

LintasWarganet.com – 19 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah masih memiliki ruang untuk menguat bila konversi devisa hasil ekspor (DHE) dioptimalkan. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi pasar valuta asing, namun para ekonom menegaskan bahwa langkah tersebut tidak cukup jika eksportir menahan devisa di tengah pelemahan rupiah.

Para pakar menyoroti tiga faktor utama yang dapat memperkuat rupiah secara berkelanjutan:

  • Mempercepat proses konversi DHE sehingga devisa masuk ke pasar domestik lebih cepat.
  • Mengurangi praktik penahanan valuta asing oleh pelaku ekspor.
  • Meningkatkan transparansi dan kepastian regulasi terkait pengelolaan devisa.

Data historis menunjukkan bahwa pada periode terakhir nilai tukar USD/IDR berfluktuasi antara 14.500 hingga 15.300 per dolar. Jika DHE dapat dikonversi secara penuh, tekanan jual rupiah berpotensi berkurang secara signifikan.

Periode Rupiah per USD
Januari 2024 14.800
Februari 2024 15.050
Maret 2024 15.200

Ekonom menekankan bahwa intervensi BI sebaiknya dipadukan dengan kebijakan yang mendorong eksportir untuk segera menukarkan hasil penjualan mereka ke rupiah. Dengan cara ini, aliran masuk devisa akan memperkuat cadangan devisa dan menurunkan kebutuhan intervensi berulang.

Selain itu, pemerintah diharapkan dapat menyederhanakan prosedur administrasi bagi perusahaan ekspor, sehingga proses konversi dapat dilakukan dalam waktu yang lebih singkat. Upaya tersebut diyakini akan meningkatkan likuiditas pasar dan memberikan sinyal positif bagi investor asing.

Secara keseluruhan, kombinasi intervensi BI, kebijakan fiskal yang mendukung, serta partisipasi aktif eksportir dalam mengalirkan devisa menjadi kunci utama untuk mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah dan menstabilkan nilai tukar di tengah ketidakpastian global.