Noel Ingatkan Potensi Peristiwa 98 Jilid 2: Prabowo Harus Peka, Dolar Semakin Tinggi!
Noel Ingatkan Potensi Peristiwa 98 Jilid 2: Prabowo Harus Peka, Dolar Semakin Tinggi!

Noel Ingatkan Potensi Peristiwa 98 Jilid 2: Prabowo Harus Peka, Dolar Semakin Tinggi!

LintasWarganet.com – 05 Juni 2026 | Dalam sebuah pernyataan yang menarik perhatian publik, aktivis dan pengamat politik Noel menekankan pentingnya kewaspadaan Presiden Prabowo Subianto terhadap potensi terjadinya Peristiwa 98 Jilid 2 serta dinamika nilai tukar dolar yang terus menguat. Noel menyoroti bahwa gejolak sosial yang pernah terjadi pada tahun 1998 masih menyisakan luka mendalam, dan bila tidak diantisipasi dapat kembali memicu ketegangan politik serta ekonomi.

Berbeda dengan tahun 1998, Indonesia kini berada pada posisi ekonomi yang lebih kuat, namun fluktuasi nilai tukar dolar yang meningkat dapat menimbulkan tekanan pada indeks harga saham gabungan (IHSG) dan menurunkan daya beli masyarakat. Noel memperingatkan bahwa kebijakan ekonomi yang tidak responsif dapat memperparah situasi, terutama bila terjadi penurunan tajam pada IHSG.

Berikut beberapa dampak utama yang diidentifikasi oleh Noel:

  • Penguatan dolar meningkatkan beban utang luar negeri bagi perusahaan domestik.
  • Penurunan IHSG dapat memicu kepanikan pasar modal dan menurunkan investasi asing.
  • Kenaikan harga barang impor menambah beban inflasi, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah.
  • Potensi sosial yang memunculkan aksi protes dapat memperparah ketidakstabilan politik.

Data nilai tukar dolar terhadap rupiah dalam tiga bulan terakhir menunjukkan tren penguatan yang konsisten:

Bulan Rata-rata USD/IDR
Januari 2024 15.350
Februari 2024 15.480
Maret 2024 15.620

Dengan latar belakang tersebut, Noel menyerukan agar Prabowo Subianto bersama timnya mengimplementasikan kebijakan yang bersifat preventif. Langkah-langkah yang disarankan antara lain:

  1. Meningkatkan koordinasi antara kementerian keuangan dan bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar.
  2. Memperkuat regulasi pasar modal guna melindungi investor dari volatilitas berlebih.
  3. Mengoptimalkan program bantuan sosial untuk meredam dampak inflasi pada kelompok rentan.
  4. Mengaktifkan dialog terbuka dengan pemimpin komunitas dan ormas guna mengidentifikasi potensi ketegangan sosial sejak dini.

Jika kebijakan tersebut dijalankan secara konsisten, Indonesia dapat mengurangi risiko terulangnya skenario krisis ekonomi dan sosial serupa 1998, sekaligus menjaga kestabilan pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global.