Nikita Mirzani Derita Sakit Punggung dan Gigi di Rutan, Kuasa Hukum Desak Operasi Segera
Nikita Mirzani Derita Sakit Punggung dan Gigi di Rutan, Kuasa Hukum Desak Operasi Segera

Nikita Mirzani Derita Sakit Punggung dan Gigi di Rutan, Kuasa Hukum Desak Operasi Segera

LintasWarganet.com – 14 April 2026 | Jakarta, 13 April 2026 – Artis kontroversial Nikita Mirzani kembali menjadi sorotan publik setelah kuasa hukumnya mengungkap kondisi kesehatan yang semakin memburuk selama berada di Rutan Pondok Bambu. Menurut pernyataan Usman Lawara, Nikita mengalami keluhan serius pada punggung serta rasa sakit yang luar biasa pada giginya, yang menurutnya memerlukan tindakan medis lanjutan.

Penderitaan Punggung yang Mengancam Saraf

Usman Lawara menyampaikan bahwa hasil rontgen terbaru menunjukkan adanya pergeseran pada tulang belakang Nikita. “Hasil rontgen terhadap dokter spesialis tulang belakangnya itu bergeser. Ini harus segera diambil tindakan karena kalau tidak diambil tindakan berakibat pada saraf‑saraf otak ke mana‑mana gitu,” ungkapnya saat ditemui di kawasan Pondok Bambu.

Menurut pengacara tersebut, pergeseran tersebut berpotensi menimbulkan komplikasi saraf yang fatal jika tidak ditangani segera. Ia menambahkan bahwa permohonan kepada majelis hakim agar kliennya diizinkan menjalani operasi atau terapi intensif di luar penjara telah diajukan berulang kali, namun hingga kini belum ada keputusan yang mengizinkan.

Sakit Gigi yang Menambah Beban

Selain masalah tulang belakang, Nikita juga menghadapi keluhan pada giginya. Usman menjelaskan bahwa implan gigi yang dipasang sebelumnya mengalami patah, menimbulkan rasa nyeri luar biasa. “Ya termasuk yang implannya itu implan giginya. Waktu itu terakhir itu kami pernah mendampingi dia di rumah sakit ya. Kalau dulu diajak ngobrol susah, ya itu apa kesakitan gitu kita ngomong apa dia sakit,” jelasnya.

Rasa sakit gigi tersebut sampai memaksa tim medis menjemput Nikita ke rumah sakit darurat. Namun, karena statusnya sebagai narapidana, penanganan medis yang diberikan terbatas pada pemeriksaan awal dan tidak mencakup tindakan operasi atau perawatan lanjutan.

Upaya Hukum yang Terhambat

Lawara menegaskan bahwa semua upaya hukum telah dilakukan untuk memperjuangkan hak perawatan kesehatan Nikita. “Kita waktu itu minta supaya Pak Hakim itu mengizinkan untuk Nikita itu berobat dioperasi belakangnya ini gitu. Tapi nggak diberikan, nggak diberikan kesempatan juga. Kalau dilihat dari kasat mata memang sehat, tapi yang ngerasain kan Nikita,” ujarnya dengan nada frustrasi.

Majelis hakim, menurut kuasa hukum, menilai Nikita masih “sehat secara kasat mata”, sehingga menolak permohonan perawatan khusus. Hal ini menimbulkan perdebatan tentang standar penilaian kesehatan narapidana di Indonesia, terutama bagi mereka yang mengalami rasa sakit internal yang tidak dapat dilihat secara eksternal.

Reaksi Publik dan Penegakan Hak Asasi

Berita tentang kondisi kesehatan Nikita memicu beragam reaksi di media sosial. Banyak netizen yang menuntut agar otoritas penegak hukum memperhatikan hak asasi tahanan, termasuk hak atas perawatan medis yang memadai. Di sisi lain, sejumlah pihak berpendapat bahwa prosedur hukum harus tetap diikuti tanpa memberikan “istimewa” bagi tokoh publik.

Kasus ini menyoroti pentingnya kebijakan yang jelas mengenai penanganan masalah medis di lembaga pemasyarakatan, terutama ketika kondisi kesehatan mengancam nyawa atau kualitas hidup tahanan.

Secara keseluruhan, situasi Nikita Mirzani mencerminkan dilema antara kepatuhan pada prosedur hukum dan kebutuhan mendesak akan perawatan medis. Jika permohonan operasi atau terapi intensif tidak dipenuhi, risiko komplikasi saraf dan komplikasi gigi dapat semakin memburuk, memperpanjang penderitaan artis tersebut di dalam penjara.

Pengamat hukum menilai bahwa tekanan publik dapat menjadi faktor kunci untuk mempercepat keputusan hakim. Sementara itu, tim medis Rutan Pondok Bambu diharapkan dapat melakukan evaluasi ulang terhadap kondisi Nikita, setidaknya menyediakan pengobatan paliatif yang memadai hingga proses hukum selesai.

Dengan menunggu keputusan selanjutnya, keluarga Nikita, yang terdiri dari tiga anak, serta pendukung hak asasi manusia, terus menuntut agar hak atas perawatan kesehatan tidak diabaikan, terlepas dari status hukum sang artis.