Nasib 21 Ribu Motor Listrik Mangkrak Usai Kasus Dadan cs: BGN Janjikan Pemanfaatan Maksimal
Nasib 21 Ribu Motor Listrik Mangkrak Usai Kasus Dadan cs: BGN Janjikan Pemanfaatan Maksimal

Nasib 21 Ribu Motor Listrik Mangkrak Usai Kasus Dadan cs: BGN Janjikan Pemanfaatan Maksimal

LintasWarganet.com – 15 Juni 2026 | Badan Gizi Nasional (BGN) resmi mengeluarkan pernyataan terkait nasib 21 ribu motor listrik yang kini terhenti proses distribusinya. Motor-motor tersebut dibeli dalam rangka Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan nilai total mencapai Rp1,39 triliun. Pembelian ini sempat menjadi sorotan publik setelah tiga mantan pimpinan BGN dinyatakan tersangka dalam penyelidikan dugaan korupsi.

Berikut rangkaian fakta penting terkait kasus ini:

  • Pengadaan motor listrik dilakukan pada tahun 2023 sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi distribusi makanan bergizi di wilayah terpencil.
  • Total nilai kontrak mencapai Rp1,39 triliun, mencakup 21.000 unit motor listrik berdaya 1,5 kW hingga 3 kW.
  • Tiga mantan pimpinan BGN — Direktur Utama, Kepala Divisi Pengadaan, dan Manajer Proyek — ditetapkan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan suap dan mark-up harga.
  • Setelah penetapan tersangka, proses serah terima motor terhenti, meninggalkan lebih dari dua puluh ribu unit yang belum terpakai di gudang pusat.
  • BGN kini mengusulkan skema redistribusi melalui lembaga pemerintah daerah dan BUMN yang memiliki jaringan logistik luas.

Pihak lain pun memberikan komentar. Kementerian Sosial menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan penyaluran motor listrik ini agar tidak mengganggu program gizi. Sementara, beberapa LSM mengingatkan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam penggunaan dana publik.

Jika skema redistribusi berjalan, perkiraan manfaatnya antara lain:

  1. Peningkatan kapasitas distribusi makanan bergizi ke daerah terpencil.
  2. Pengurangan biaya operasional transportasi berbahan bakar fosil.
  3. Pengurangan emisi karbon, selaras dengan target hijau pemerintah.

Namun, tantangan yang masih harus dihadapi mencakup: penyusunan mekanisme penyaluran yang bebas kecurangan, pengawasan penggunaan motor secara real time, serta penyelesaian prosedur legal atas motor yang sudah terdaftar atas nama BGN namun belum beroperasi.

Secara keseluruhan, nasib 21 ribu motor listrik ini menjadi sorotan publik tidak hanya karena nilai moneter yang besar, tetapi juga karena dampak sosial yang potensial. BGN berjanji akan mengoptimalkan pemanfaatan aset tersebut, sekaligus menunggu proses hukum menyelesaikan kasus para mantan pimpinan yang kini menjadi tersangka.