LintasWarganet.com – 17 Mei 2026 | Sabtu, 16 Mei 2026, Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menjadi saksi bersejarah ketika Museum Pahlawan Nasional Pejuang Buruh Marsinah resmi dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Upacara yang dihadiri oleh pejabat tinggi negara, tokoh serikat pekerja, serta warga setempat menandai dimulainya sebuah ruang memorial yang tidak hanya memperingati perjuangan Marsinah, tetapi juga berambisi menjadi pusat edukasi bagi generasi muda dan pemangku kepentingan.
Upacara Peresmian oleh Presiden Prabowo Subianto
Presiden Prabowo memulai acara dengan membacakan pernyataan resmi, kemudian menandatangani prasasti sebagai simbol pembukaan museum. Ia menegaskan pentingnya mengenang sosok Marsinah, aktivis buruh yang menjadi ikon perlawanan pekerja pada era 1990-an, dan menambahkan bahwa museum ini akan menjadi “amalan jariyah” bagi perjuangan beliau. Prabowo juga menyoroti peran rumah singgah di belakang museum yang disiapkan secara gratis bagi para peziarah, menegaskan bahwa fasilitas tersebut tidak dimaksudkan sebagai tempat tinggal permanen, melainkan sebagai wujud penghormatan terhadap para pengunjung yang ingin menelusuri jejak sejarah.
Fasilitas dan Koleksi Museum
Bangunan museum yang berwarna putih dengan desain sederhana namun elegan menampung beragam koleksi pribadi Marsinah, termasuk pakaian yang dikenakan saat jenazahnya ditemukan, sepeda ontel, ijazah, dan medali pahlawan nasional yang diberikan pada November 2025. Seluruh barang dipajang dalam lemari kaca berpendar, lengkap dengan keterangan historis yang membantu pengunjung memahami konteks masing‑masing artefak.
- Diorama Buruh 1990‑an: Menampilkan situasi kerja keras, demonstrasi May Day 2025, dan aksi-aksi protes yang menandai era perjuangan buruh Indonesia.
- Ruang Dokumentasi: Menyajikan foto-foto, kliping koran asli, dan arsip tulisan yang merekam langkah‑langkah Marsinah dalam memperjuangkan hak‑hak pekerja.
- Ruangan Penobatan: Memperlihatkan momen Marsinah resmi dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional pada November 2025.
Selain koleksi fisik, museum juga mengadopsi konsep penataan dari Museum Galeri Nasional Singapura, yang menekankan tampilan visual bersih, pencahayaan terarah, serta alur kunjungan yang terstruktur sehingga pengunjung dapat “napak tilas” dengan mudah.
Peran Gubernur Jawa Timur dan Pengembangan Wisata Edukatif
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan optimismenya bahwa Museum Marsinah dapat menjadi destinasi wisata edukatif baru yang sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat Nganjuk. Ia menegaskan bahwa Desa Nglundo telah memperoleh status Desa Wisata pada tahun 2026 dan kini memiliki Kelompok Destinasi Wisata (Pokdarwis) yang aktif mengelola potensi lokal. Khofifah menambahkan, “Dengan adanya museum ini, jejak perjuangan Mbak Marsinah tidak akan pudar dan dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk menegakkan keadilan.”
Gubernur juga memuji penataan dan manajemen museum yang “bagus, tertata indah, dan rapi”. Ia menekankan pentingnya menampilkan dokumentasi lengkap, mulai dari foto, kliping, hingga pakaian, yang memungkinkan pengunjung merasakan kedekatan emosional dengan sosok pahlawan.
Pendanaan, Pengelolaan, dan Konsep Kurasi
Pembangunan Museum Marsinah dibiayai melalui donasi buruh seluruh Indonesia serta sumbangan organisasi independen Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI). Pengelolaan museum akan berada di bawah naungan Yayasan KSPSI, yang telah menyiapkan tim khusus untuk mengatur koleksi, perawatan, serta program edukasi.
Konsep kurasi museum mengadopsi standar internasional, menggabungkan elemen visual interaktif dan edukatif yang memungkinkan pengunjung, khususnya pelajar, memahami dinamika perjuangan buruh pada akhir abad ke‑20. Pengunjung dapat menjelajahi ruang‑ruang secara mandiri atau mengikuti tur terpandu yang disediakan oleh Pokdarwis setempat.
Selain itu, rumah singgah yang terletak di belakang museum memberikan akomodasi gratis satu malam bagi peziarah yang datang dari luar daerah. Fasilitas ini dirancang untuk mendukung kunjungan yang lebih lama, namun dengan batasan satu malam untuk menghindari penyalahgunaan.
Dengan jam operasional yang ditetapkan mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB, museum diharapkan akan melayani ribuan pengunjung setiap bulannya, termasuk pelajar, mahasiswa, serta aktivis sosial yang tertarik pada sejarah pergerakan buruh Indonesia.
Secara keseluruhan, Museum Marsinah tidak hanya menjadi tempat penyimpanan artefak, melainkan juga sebuah pusat edukasi yang menghubungkan masa lalu dengan tantangan masa kini. Melalui sinergi antara pemerintah daerah, serikat pekerja, dan masyarakat setempat, museum ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa kebanggaan nasional sekaligus memberikan dampak ekonomi positif bagi Desa Nglundo dan Kabupaten Nganjuk.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet