Meski Rupiah Anjlok, Fuad Bawazier Nilai Kondisi Ekonomi Indonesia Berbeda dengan Era 1998
Meski Rupiah Anjlok, Fuad Bawazier Nilai Kondisi Ekonomi Indonesia Berbeda dengan Era 1998

Meski Rupiah Anjlok, Fuad Bawazier Nilai Kondisi Ekonomi Indonesia Berbeda dengan Era 1998

LintasWarganet.com – 11 Juni 2026 | Nilai tukar rupiah kembali melemah pada pekan ini, menimbulkan keprihatinan di kalangan pelaku pasar. Meskipun demikian, ekonom terkemuka Fuad Bawazier menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak dapat disamakan dengan krisis tahun 1998.

Berbeda dengan era 1998 yang ditandai dengan kontraksi tajam, deflasi, dan keruntuhan sistem perbankan, ekonomi saat ini menunjukkan karakteristik yang lebih dinamis. Berikut beberapa perbedaan utama yang diuraikan oleh Bawazier:

  • Pertumbuhan Ekonomi: Pada 1998, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mengalami kontraksi negatif hampir -13,1% secara tahunan. Pada 2023, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada di kisaran 5,0% hingga 5,5%.
  • Inflasi: Inflasi pada krisis 1998 mencapai lebih dari 70% akibat hiperinflasi. Saat ini, inflasi berada di level yang lebih terkendali, meski masih berada di atas target bank sentral, yaitu sekitar 3,5% hingga 4,0%.
  • Cadangan Devisa: Cadangan devisa pada akhir 1997 hanya sekitar US$ 3,2 miliar, sedangkan kini mencatat lebih dari US$ 135 miliar, memberikan bantalan kuat terhadap tekanan mata uang.
  • Investasi Asing: Pada era krisis, aliran investasi asing (FDI) hampir menghilang. Tahun-tahun terakhir mencatat aliran FDI yang stabil, dengan nilai tahunan mendekati US$ 30 miliar.
  • Struktur Ekonomi: Sektor digital dan layanan kini menyumbang proporsi yang signifikan terhadap PDB, berbeda dengan dominasi sektor pertanian dan manufaktur pada akhir 1990-an.

Fuad Bawazier menambahkan bahwa meskipun nilai tukar rupiah melemah, kebijakan moneter dan fiskal yang lebih terkoordinasi, serta reformasi struktural yang terus berjalan, memberikan ruang bagi ekonomi untuk tetap tumbuh. Ia juga menekankan pentingnya memperkuat ketahanan keuangan melalui diversifikasi ekspor, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pengembangan infrastruktur digital.

Secara keseluruhan, melemahnya rupiah tidak serta merta menandakan kembali ke era krisis. Kondisi makroekonomi yang lebih sehat, likuiditas yang cukup, serta fondasi kebijakan yang lebih kuat menjadi faktor penyangga utama yang membedakan situasi saat ini dengan tahun 1998.