Menkeu Purbaya Jelaskan ‘Survival Mode’ Pemerintah Indonesia

LintasWarganet.com – 25 April 2026 | Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini memaparkan strategi “survival mode” yang kini dijalankan pemerintah Indonesia untuk menghadapi tekanan ekonomi global yang semakin berat. Menurutnya, langkah ini bersifat sementara namun krusial untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan melindungi kesejahteraan rakyat.

Strategi “survival mode” berfokus pada empat pilar utama:

  • Pengendalian belanja negara: Pemerintah meninjau kembali prioritas pengeluaran, menunda atau menyesuaikan proyek infrastruktur yang tidak esensial, serta memperketat pengawasan penggunaan dana publik.
  • Peningkatan penerimaan pajak: Diperkenalkan kebijakan pemotongan tarif pajak bagi sektor yang terdampak paling parah, sambil meningkatkan efisiensi pemungutan pajak melalui digitalisasi dan pengawasan yang lebih ketat.
  • Perlindungan sosial: Penyesuaian bantuan sosial dan program subsidi energi untuk mengurangi beban rumah tangga, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah.
  • Stabilisasi nilai tukar dan inflasi: Bank Indonesia diberi ruang kebijakan moneter yang fleksibel untuk menahan volatilitas nilai tukar dan mengendalikan laju inflasi.

Selain empat pilar tersebut, Purbaya menambahkan bahwa pemerintah juga mengoptimalkan sumber daya domestik, termasuk memprioritaskan penggunaan bahan baku lokal dalam industri manufaktur dan memperkuat rantai pasok dalam negeri. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor serta menekan defisit neraca perdagangan.

Langkah-langkah konkret yang telah diluncurkan antara lain:

  1. Revisi anggaran 2024 dengan penurunan alokasi untuk proyek non‑strategis sebesar 5 %.
  2. Penerapan sistem e‑faktur secara wajib bagi semua wajib pajak untuk meningkatkan kepatuhan.
  3. Peningkatan bantuan langsung tunai (BLT) bagi keluarga miskin dengan penambahan Rp 500 juta per provinsi.
  4. Penetapan batas maksimum tarif listrik dan bahan bakar minyak (BBM) selama tiga bulan ke depan.
  5. Koordinasi intensif dengan Bank Indonesia untuk menjaga kurs Rupiah tetap stabil dalam rentang ±2 % terhadap dolar AS.

Menjelang akhir tahun, Menteri Keuangan menegaskan bahwa “survival mode” bukan berarti penurunan kualitas layanan publik, melainkan upaya terukur untuk menyesuaikan kebijakan fiskal dengan realitas ekonomi global. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini akan terus dievaluasi secara periodik, dan akan beralih ke fase pertumbuhan kembali setelah kondisi makroekonomi menunjukkan perbaikan yang signifikan.

Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap dapat menjaga kestabilan ekonomi, melindungi daya beli masyarakat, serta menciptakan fondasi yang lebih kuat untuk pemulihan ekonomi jangka panjang.