Marak Demo Tandingan MBG, Pengamat Sebut Gaya Usang Orde Baru Sudah Tak Seefektif Dulu
Marak Demo Tandingan MBG, Pengamat Sebut Gaya Usang Orde Baru Sudah Tak Seefektif Dulu

Marak Demo Tandingan MBG, Pengamat Sebut Gaya Usang Orde Baru Sudah Tak Seefektif Dulu

LintasWarganet.com – 23 Juni 2026 | Beberapa hari terakhir, aksi demonstrasi tandingan terhadap MBG (Masyarakat Bumi Ganjil) menyebar di sejumlah kota besar Indonesia. Meskipun jumlah peserta terbilang signifikan, para pengamat politik menilai bahwa taktik demonstrasi yang dipakai merupakan warisan era Orde Baru yang kini kehilangan daya tarik dan efektivitas.

Analisis Pengamat

Seorang pakar ilmu politik menjelaskan, “Gaya demonstrasi massal yang mengandalkan orasi di lapangan, spanduk besar, dan mobilisasi fisik secara besar-besaran sudah tidak lagi menjadi senjata utama dalam memobilisasi opini publik. Era digital telah mengubah cara warga menyerap informasi dan mengekspresikan protes mereka.”

Faktor-faktor yang Membuat Gaya Orde Baru Menjadi Usang

  • Penetrasi internet yang meluas, memungkinkan pesan tersebar secara real‑time melalui media sosial.
  • Pengawasan CCTV dan teknologi pengenalan wajah yang mempersulit aksi massa besar tanpa terdeteksi.
  • Kecepatan mobilisasi informasi membuat respon pemerintah atau aparat lebih cepat dibandingkan masa lalu.
  • Generasi milenial dan Gen Z lebih memilih aksi daring—seperti hashtag campaign, livestream, dan petisi online—daripada turun ke jalan.

Perbandingan Metode Demonstrasi

Aspek Metode Orde Baru Metode Digital Era
Media Penyebaran Spanduk, poster, orasi langsung Media sosial, video streaming, platform daring
Kecepatan Penyebaran Hari‑ke‑hari atau minggu Detik hingga menit
Risiko Penindakan Tinggi, karena aksi fisik mudah dipantau Lebih rendah, aksi virtual sulit dilacak secara langsung
Partisipasi Terbatas pada yang dapat hadir secara fisik Terbuka bagi siapa saja dengan akses internet

Dengan dinamika tersebut, para aktivis kini lebih banyak mengandalkan strategi digital: kampanye hashtag, penggalangan dukungan lewat petisi daring, serta penyebaran video live yang dapat memicu reaksi cepat dari publik dan media. Meskipun aksi fisik masih ada, ia lebih bersifat simbolis dan tidak lagi menjadi motor utama perubahan opini.

Ke depan, kemungkinan besar demonstrasi akan mengadopsi pendekatan hybrid, menggabungkan elemen tradisional dengan teknologi digital untuk mencapai dampak maksimal.