Lewat Kompetisi BRICS, Indonesia Perkuat Revolusi Industri Bersama Tiongkok

LintasWarganet.com – 08 Mei 2026 | Pemerintah Indonesia mempercepat transformasi industri nasional dengan memanfaatkan momentum kompetisi dalam forum BRICS. Pada pertemuan terbaru, Indonesia menegaskan komitmen untuk memperkuat revolusi industri bersama Tiongkok, sebagai bagian dari strategi mencapai visi Indonesia Emas 2045.

Kerja sama dengan Tiongkok difokuskan pada beberapa bidang strategis, antara lain:

  • Pengembangan manufaktur berteknologi tinggi, termasuk elektronik, kendaraan listrik, dan peralatan medis.
  • Digitalisasi rantai pasok melalui platform Industry 4.0 dan adopsi kecerdasan buatan.
  • Investasi dalam energi bersih, seperti tenaga surya, angin, dan hidrogen hijau.
  • Peningkatan kapasitas logistik dan infrastruktur pelabuhan untuk memperlancar ekspor‑impor.

Langkah-langkah pemerintah yang mendukung agenda tersebut meliputi:

  1. Penerbitan regulasi insentif fiskal bagi perusahaan yang berinvestasi dalam teknologi ramah lingkungan.
  2. Pembentukan kawasan industri khusus yang dilengkapi fasilitas R&D bersama dengan mitra Tiongkok.
  3. Peningkatan keterampilan tenaga kerja melalui program pelatihan berbasis digital.
  4. Pembiayaan proyek melalui lembaga keuangan multinasional yang berperan dalam BRICS.

Dengan mengintegrasikan sumber daya manusia, modal, dan teknologi, Indonesia berupaya menutup kesenjangan produktivitas dibandingkan negara‑negara maju. Target utama adalah meningkatkan nilai tambah manufaktur hingga 30 % pada 2030, sekaligus menurunkan ketergantungan pada komoditas primer.

Persaingan di antara anggota BRICS, khususnya antara Tiongkok, India, dan Brazil, mendorong masing‑masing negara untuk menawarkan paket kerjasama yang lebih menarik. Indonesia memanfaatkan posisi geografisnya sebagai hub logistik Asia‑Pasifik, serta pasar domestik yang berpotensi mencapai 300 juta konsumen, untuk menarik lebih banyak investasi dari Tiongkok.

Jika sinergi ini berjalan lancar, diharapkan pertumbuhan PDB Indonesia akan berada pada kisaran 5‑6 % per tahun menjelang 2045, sekaligus menciptakan jutaan lapangan kerja baru di sektor manufaktur berteknologi tinggi.