Kritik Wacana Hapus Prodi yang Tak Terserap Industri, Wadek Fisip UPNVJ: Residu Pemikiran Kolonial

LintasWarganet.com – 07 Mei 2026 | Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Prof. Dr. Ir. Soedarmadji, Sumbawa (UPNVJ), Dr. Ahmad Zaki, mengkritik keras wacana penghapusan program studi yang dianggap tidak dapat menyerap lulusan ke dunia industri. Menurutnya, pandangan tersebut mencerminkan pola pikir kolonial yang masih melekat dalam kebijakan pendidikan Indonesia.

Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan pada acara forum akademik di kampus, Dr. Zaki menegaskan bahwa menilai relevansi suatu program studi hanya dari perspektif pasar kerja jangka pendek mengabaikan nilai intrinsik ilmu pengetahuan dan peran pentingnya dalam membentuk pemikiran kritis serta budaya demokratis.

  • Program studi humaniora, seperti sosiologi, antropologi, dan ilmu politik, menghasilkan lulusan yang berperan dalam analisis kebijakan, riset sosial, dan pengembangan publik.
  • Pembentukan warga negara yang sadar hak dan kewajiban tidak dapat diukur semata dari tingkat penempatan kerja di sektor swasta.
  • Penghapusan program hanya karena belum terhubung dengan industri dapat menurunkan kualitas pendidikan tinggi secara keseluruhan.

Dr. Zaki menambahkan bahwa warisan pemikiran kolonial masih memengaruhi cara sebagian pemangku kebijakan menilai “kegunaan” ilmu dengan mengedepankan utilitas ekonomi di atas nilai kebudayaan dan sosial. Ia menyebut istilah “residu pemikiran kolonial” untuk menggambarkan sikap yang menilai ilmu pengetahuan hanya sebagai alat produksi.

Ia juga mengajak pemerintah, institusi pendidikan, serta dunia industri untuk bersama‑sama merumuskan kerangka kerja kolaboratif yang menghargai kontribusi lintas‑disiplin. Menurutnya, sinergi tersebut dapat meningkatkan relevansi program studi tanpa harus mengorbankan kebebasan akademik.

Sebagai langkah konkret, Dr. Zaki mengusulkan pembentukan forum dialog antara universitas, asosiasi profesional, dan perwakilan sektor industri guna mengidentifikasi peluang kerjasama penelitian, magang, dan proyek berbasis komunitas. Pendekatan ini diharapkan dapat membuka jalur baru bagi lulusan program non‑teknis untuk berkontribusi secara produktif di masyarakat.

Dengan demikian, kritik tersebut bukan sekadar menolak kebutuhan akan penyesuaian kurikulum, melainkan menyerukan perspektif yang lebih holistik dalam menilai nilai pendidikan tinggi, sekaligus menolak stereotip bahwa hanya ilmu terapan yang “bermanfaat”.