LintasWarganet.com – 14 April 2026 | Masa depan Timnas Italia berada di persimpangan tajam setelah kegagalan menyakitkan di babak play‑off Piala Dunia 2026 melawan Bosnia‑Herzegovina pada akhir Maret lalu. Kekalahan tersebut tidak hanya menutup peluang Italia melaju ke putaran final, tetapi juga memicu gejolak di tingkat kepengurusan federasi serta menimbulkan sorotan tajam terhadap kondisi Serie A yang dinilai banyak pihak mirip dengan masalah tata kelola liga di Indonesia.
Vacancy Kepala Pelatih: Allegri vs Conte
Setelah Gennaro Gattuso mengundurkan diri, dua nama besar muncul sebagai kandidat utama untuk mengemban tongkat kepelatihan Azzurri: Massimiliano Allegri dan Antonio Conte. Kedua tokoh ini memiliki rekam jejak yang kuat di level klub. Allegri, yang kini melatih AC Milan, dikenal dengan taktik fleksibel dan kemampuan mengelola skuad berbintang. Namun, hubungannya dengan manajemen Milan sedang tegang karena permintaan wewenang lebih besar dalam keputusan taktis.
Di sisi lain, Conte, yang memimpin Napoli, pernah mengangkat Timnas Italia pada periode 2017‑2018 dan memiliki pengalaman internasional yang terbukti. Ia dikabarkan menunjukkan minat kuat untuk kembali ke skuad nasional, sementara Presiden Napoli, Aurelio De Laurentis, menyatakan tidak akan menghalangi langkah Conte jika ia memutuskan beralih.
Roberto Mancini, mantan pelatih Italia 2018‑2023, tetap berada dalam radar sebagai opsi cadangan, namun secara umum berada di belakang Allegri dan Conte dalam urutan prioritas media Italia.
Presiden FIGC: Malago vs Abete
Perebutan kursi pimpinan Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) semakin memanas. Gabriele Gravina yang menjabat sejak 2018 dipandang banyak pihak harus mengundurkan diri karena dianggap tidak mampu mengatasi krisis performa nasional serta masalah struktural liga domestik.
Giovanni Malago, mantan ketua CONI, telah menggalang dukungan signifikan dari 18 klub Serie A, yang bersama‑sama memegang 18 % hak suara dalam pemilihan. Dukungan tersebut mencerminkan harapan klub‑klub besar untuk membawa reformasi menyeluruh, termasuk mengatasi masalah finansial dan kebijakan transfer yang dianggap menghambat daya saing liga.
Giancarlo Abete, mantan Presiden FIGC (2014‑2017) dan kini memimpin Lega Nazionale Dilettanti, juga kembali mencalonkan diri. Abete menekankan pentingnya memperkuat basis amatir serta mengintegrasikan kebijakan klub profesional dengan struktur sepak bola akar rumput.
| Kandidat | Latar Belakang | Dukungan Utama |
|---|---|---|
| Giovanni Malago | Ketua CONI 2013‑2023 | 18 klub Serie A |
| Giancarlo Abete | Presiden FIGC 2014‑2017 | Komunitas amatir & Lega Nazionale Dilettanti |
Seruan Reformasi Serie A Seperti Liga Indonesia
Di tengah kegelisahan nasional, suara‑suara kritis muncul menuntut Serie A melakukan perubahan struktural yang dianggap serupa dengan upaya reformasi Liga Indonesia. Kritik utama meliputi:
- Kurangnya transparansi keuangan klub, yang menyebabkan beban hutang tinggi.
- Distribusi hak siar televisi yang tidak merata, menyingkirkan klub-klub menengah.
- Pengelolaan regulasi pemain asing yang dianggap membatasi perkembangan talenta muda.
Para pengamat sepak bola menilai, jika FIGC yang baru mampu meniru langkah-langkah reformasi Liga Indonesia—seperti peningkatan pengawasan keuangan, sistem promosi‑degradasi yang lebih adil, serta kebijakan pengembangan akademi—maka Serie A berpotensi kembali menjadi liga kompetitif di level Eropa.
Jadwal Pemilihan dan Dampaknya
Pemilihan Presiden FIGC dijadwalkan pada 22 Juni 2026. Hasil pemilihan diprediksi akan berpengaruh langsung pada keputusan penunjukan pelatih nasional. Jika Malago terpilih, peluang Allegri mendapatkan mandat melatih Azzurri akan meningkat karena hubungan baiknya dengan klub‑klub Serie A. Sebaliknya, kemenangan Abete dapat membuka ruang bagi kandidat yang lebih berorientasi pada pengembangan struktural jangka panjang, termasuk kemungkinan kembali menomorsatukan Roberto Mancini atau bahkan melirik pelatih asing.
Dalam skenario terburuk, penundaan penunjukan pelatih dapat memperpanjang masa transisi, menghambat persiapan tim untuk kualifikasi Piala Dunia 2026 dan menurunkan moral pemain. Oleh karena itu, tekanan publik, media, serta stakeholder klub menuntut keputusan cepat dan tegas.
Secara keseluruhan, Italia berada pada titik kritis yang menuntut sinergi antara kepemimpinan federasi, kebijakan liga, dan pilihan teknis pelatih. Keputusan yang diambil dalam beberapa minggu ke depan akan menentukan apakah Azzurri dapat kembali menorehkan prestasi atau terus terpuruk di luar panggung internasional.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet