Krisis Energi Global Akibat Ditutupnya Selat Hormuz, Singapura Terpukul Lebih Dalam Ketimbang Spanyol
Krisis Energi Global Akibat Ditutupnya Selat Hormuz, Singapura Terpukul Lebih Dalam Ketimbang Spanyol

Krisis Energi Global Akibat Ditutupnya Selat Hormuz, Singapura Terpukul Lebih Dalam Ketimbang Spanyol

LintasWarganet.com – 17 Mei 2026 | Penutupan Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menyumbang sekitar 20% pasokan minyak dunia, memicu krisis energi global yang menimbulkan goncangan tajam pada pasar energi. Harga minyak mentah melambung, sementara negara-negara yang sangat bergantung pada jalur ini menghadapi tantangan logistik dan ekonomi yang signifikan.

Singapura, sebagai salah satu pusat perdagangan minyak terbesar di Asia, merasakan dampak paling keras. Kota‑negara ini menampung lebih dari 70% volume perdagangan minyak cair di kawasan, serta memiliki fasilitas penyulingan dan penyimpanan yang luas. Penutupan selat mengakibatkan:

  • Penurunan volume pengiriman minyak laut sebesar 30% dalam minggu pertama.
  • Kenaikan tarif pelayaran tanker hingga 15% karena kebutuhan rute alternatif yang lebih panjang.
  • Peningkatan biaya operasional penyulingan akibat fluktuasi pasokan bahan baku.
  • Penurunan pendapatan pajak dan bea masuk terkait aktivitas pelabuhan.

Berbeda dengan Spanyol, yang meskipun mengimpor minyak, memiliki diversifikasi sumber energi yang lebih luas melalui impor melalui Terusan Suez dan jalur darat. Akibatnya, dampak ekonomi di Spanyol terasa lebih ringan, terbatas pada kenaikan harga bensin di pasar domestik.

Krisis ini juga mempercepat agenda transisi energi di kedua negara. Pemerintah Singapura memperkuat rencana pengembangan energi terbarukan, terutama solar dan hidrogen hijau, serta meningkatkan investasi dalam infrastruktur LNG. Sementara itu, Spanyol memperluas target penggunaan energi terbarukan hingga 70% pada tahun 2030, menurunkan ketergantungan pada minyak impor.

Secara keseluruhan, penutupan Selat Hormuz menegaskan kembali kerentanan pasar energi global terhadap gangguan geopolitik, sekaligus memicu percepatan adopsi sumber energi bersih di kawasan Asia dan Eropa.