Krisis Energi Dorong Jepang Kejar Minyak Goreng Bekas untuk Bahan Bakar Pesawat
Krisis Energi Dorong Jepang Kejar Minyak Goreng Bekas untuk Bahan Bakar Pesawat

Krisis Energi Dorong Jepang Kejar Minyak Goreng Bekas untuk Bahan Bakar Pesawat

LintasWarganet.com – 05 Juni 2026 | Ketegangan pasokan energi global memaksa negara-negara mencari sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Jepang, sebagai salah satu konsumen energi terbesar di dunia, mempercepat program pengumpulan minyak goreng bekas (MGB) untuk diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF), bahan bakar pesawat yang dapat mengurangi emisi karbon.

Program ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah Jepang untuk mencukupi 10% kebutuhan avtur (bahan bakar penerbangan) dari sumber berkelanjutan pada tahun 2030. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah bekerja sama dengan industri pengolahan limbah, maskapai penerbangan, serta jaringan restoran dan rumah tangga.

Berikut langkah-langkah utama yang diambil Jepang dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan minyak goreng bekas:

  • Pengumpulan terpusat: Dibentuk titik kumpul di kota‑kota besar, termasuk pusat daur ulang, supermarket, dan fasilitas publik.
  • Pemrosesan kimia: Minyak goreng bekas diubah menjadi ester metil melalui proses transesterifikasi, kemudian diproses lebih lanjut menjadi SAF dengan teknologi hidrokraking.
  • Insentif ekonomi: Pemerintah memberikan subsidi dan kredit pajak bagi perusahaan yang menyumbangkan MGB serta bagi maskapai yang menggunakan SAF.
  • Pendidikan publik: Kampanye penyuluhan dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemisahan limbah minyak di dapur.

Manfaat yang diharapkan meliputi penurunan emisi CO₂ hingga 80% dibandingkan avtur konvensional, pengurangan ketergantungan pada minyak bumi, serta penciptaan lapangan kerja baru di sektor daur ulang dan teknologi kimia.

Namun, tantangan tetap ada. Ketersediaan minyak goreng bekas masih terbatas dibandingkan kebutuhan total avtur, sehingga diperlukan peningkatan efisiensi pengumpulan dan pengolahan. Selain itu, biaya produksi SAF masih lebih tinggi, meskipun dukungan pemerintah diharapkan dapat menurunkannya dalam jangka panjang.

Jika program ini berhasil, Jepang dapat menjadi contoh bagi negara lain dalam mengintegrasikan ekonomi sirkular ke dalam sektor penerbangan, sekaligus memperkuat keamanan energi nasional di tengah gejolak pasar energi global.