LintasWarganet.com – 23 Juni 2026 | Komite PBB yang menangani Hak-Hak Anak (UN Committee on the Rights of the Child/CRC) mengeluarkan pernyataan mengecam kondisi kehidupan anak-anak Palestina yang semakin terancam tanpa perlindungan. Dalam laporan terbaru yang dibacakan pada pertemuan tahunan, komite menyoroti peningkatan risiko kematian, luka, serta gangguan psikologis yang dialami anak-anak di wilayah pendudukan.
Berbagai faktor memperparah situasi, antara lain peningkatan operasi militer, penutupan akses layanan kesehatan, dan terbatasnya kesempatan pendidikan. Data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen anak-anak di Jalur Gaza dan Tepi Barat mengalami gangguan mental, sementara hampir 40 ribu anak tercatat mengalami luka serius akibat serangan langsung atau dampak sekunder.
- Pembatasan Mobilitas: Pemeriksaan ketat di pos pemeriksaan dan blokade menghalangi anak-anak mengakses fasilitas kesehatan dan sekolah.
- Kekurangan Gizi: Krisis ekonomi memaksa banyak keluarga mengurangi asupan makanan, meningkatkan risiko malnutrisi pada anak usia dini.
- Pengungsian: Ribuan keluarga terpaksa mengungsi ke kamp pengungsi internal, di mana sanitasi dan perlindungan masih minim.
Komite menekankan bahwa hukum internasional, khususnya Konvensi Hak Anak, mengikat semua pihak untuk memastikan perlindungan utama bagi anak. Mereka menyerukan agar semua pihak dalam konflik menghindari serangan yang dapat membahayakan warga sipil, khususnya anak-anak, serta membuka akses bantuan kemanusiaan secara tidak terbatas.
Selain itu, komite meminta negara‑negara anggota PBB untuk meningkatkan dukungan finansial dan teknis kepada organisasi‑organisasi lokal yang bekerja di lapangan, termasuk program psikososial, rehabilitasi pendidikan, dan layanan kesehatan dasar.
Pernyataan ini mendapat respons beragam. Pemerintah Israel menegaskan bahwa operasi militer ditujukan untuk keamanan nasional dan menolak tuduhan pelanggaran hak anak. Sementara itu, otoritas Palestina serta sejumlah LSM internasional menyambut baik pernyataan komite, sekaligus menuntut tindakan konkret dari komunitas internasional.
Para ahli menilai bahwa tanpa intervensi yang terkoordinasi, generasi anak Palestina berisiko tumbuh dalam lingkungan yang penuh trauma, yang dapat memperpanjang siklus konflik di masa depan. Oleh karena itu, perlindungan anak bukan hanya isu kemanusiaan, melainkan juga faktor penting dalam upaya mencapai perdamaian berkelanjutan.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet