LintasWarganet.com – 25 Mei 2026 | Letjen TNI (Purn) Soegito, tokoh legendaris Kopassus, kembali menjadi sorotan setelah kisah keberaniannya dalam operasi militer di Timor Timur tahun 1975 terungkap kembali. Pada masa itu, Indonesia tengah menyiapkan intervensi militer untuk mengakhiri kekacauan politik pasca‑dekolonisasi Portugal.
Setelah Portugal mengumumkan penarikan diri, gerakan separatis Fretilin menguasai sebagian besar wilayah Timor Timur dan mendeklarasikan kemerdekaan. Pemerintah Indonesia menilai situasi tersebut mengancam stabilitas regional, sehingga memutuskan untuk melancarkan operasi militer.
Soegito ditugaskan memimpin pasukan elit Kopassus dalam misi penyelamatan dan penertiban. Menurut saksi mata, sebelum memulai aksi, ia mengajukan satu syarat yang mengejutkan: “Jika negosiasi dengan Fretilin gagal, saya rela diberi bondon (dipertaruhkan) demi menghindari korban di pihak kami.” Keberanian ini menunjukkan tekadnya untuk menanggung risiko pribadi demi keselamatan rekan‑rekan.
- 1975‑04‑13: Pasukan Indonesia memasuki wilayah perbatasan Timor Timur.
- 1975‑04‑20: Soegito memimpin delegasi untuk bernegosiasi dengan pemimpin Fretilin.
- 1975‑04‑22: Negosiasi gagal, Soegito menepati janjinya dan pasukannya terlibat pertempuran intens.
- 1975‑04‑25: Operasi berakhir dengan kemenangan taktis Indonesia, meski menelan korban jiwa.
Setelah pertempuran, Soegito tetap melanjutkan operasi penertiban hingga Indonesia secara resmi mengintegrasikan Timor Timur pada tahun 1976. Pengorbanan pribadinya menjadi contoh kepemimpinan yang mengutamakan tanggung jawab moral di tengah tekanan militer.
Kisah ini kini menjadi bagian penting dalam sejarah Kopassus dan dipelajari di akademi militer sebagai ilustrasi keberanian, keputusan cepat, serta kesediaan menanggung konsekuensi pribadi demi misi.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet