Ketika layar mengganti pelukan
Ketika layar mengganti pelukan

Ketika layar mengganti pelukan

LintasWarganet.com – 30 Maret 2026 | Di sebuah sore di Pulau Lombok, seorang anak tampak duduk tenang di teras rumahnya. Alih‑alih mengajak teman‑temannya bermain di luar, ia lebih sibuk menggeser‑geser layar ponselnya, seolah‑olah sentuhan virtual menggantikan kehangatan pelukan fisik.

Fenomena ini bukan sekadar kebetulan lokal. Data terbaru menunjukkan peningkatan signifikan dalam penggunaan perangkat digital di kalangan anak‑anak dan remaja Indonesia. Menurut survei Kominfo 2023, rata‑rata waktu yang dihabiskan di depan layar mencapai 4,2 jam per hari untuk usia 10‑14 tahun, naik 0,7 jam dibandingkan tahun sebelumnya.

Usia Rata‑rata Waktu Layar (jam/hari)
6‑9 2,5
10‑14 4,2
15‑19 5,6

Para pakar kesehatan mental menilai bahwa kecenderungan ini dapat berujung pada berkurangnya kemampuan emosional anak untuk merespon secara empatik. Dr. Maya Sari, psikolog anak di Universitas Udayana, mengingatkan bahwa interaksi tatap muka tetap menjadi fondasi utama dalam perkembangan sosial anak.

  • Mengatur batasan waktu layar harian, idealnya tidak lebih dari dua jam untuk usia di bawah 12 tahun.
  • Mendorong aktivitas luar ruangan dan permainan tradisional yang melibatkan kontak fisik.
  • Menjadwalkan “hari tanpa gadget” dalam rutinitas keluarga.
  • Memberikan contoh positif dengan orang tua yang juga mengurangi penggunaan ponsel di sekitar anak.

Di sisi lain, teknologi tidak dapat diabaikan begitu saja. Platform digital menyediakan peluang edukatif, menghubungkan keluarga yang terpisah, dan membuka akses informasi. Tantangannya terletak pada menemukan keseimbangan antara manfaat dan risiko.

Dengan kesadaran bersama, masyarakat dapat mengembalikan nilai pelukan dan kehangatan fisik yang selama ini tergantikan oleh layar. Upaya kolaboratif antara pemerintah, lembaga pendidikan, serta orang tua diperlukan untuk membentuk generasi yang tetap terhubung secara manusiawi di era digital.