Kekaraengan Marusu Lestarikan Tradisi Katto Bokko
Kekaraengan Marusu Lestarikan Tradisi Katto Bokko

Kekaraengan Marusu Lestarikan Tradisi Katto Bokko

LintasWarganet.com – 04 April 2026 | Kekaraengan Marusu, sebuah institusi keraton tradisional yang berada di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, kembali menggelar serangkaian kegiatan untuk melestarikan warisan budaya lokal, yaitu tradisi “Katto Bokko“. Upaya ini bertujuan agar generasi muda tetap mengenal, mempraktikkan, dan menghargai nilai-nilai kebudayaan yang telah diwariskan turun‑temurun.

“Katto Bokko” merupakan rangkaian ritual seni pertunjukan yang menggabungkan tarian, musik tradisional, serta narasi sejarah Kerajaan Marusu. Dalam tiap pertunjukannya, para penari memakai pakaian adat berwarna cerah, lengkap dengan hiasan kepala yang terbuat dari anyaman rotan dan bulu burung. Alat musik utama yang mengiringi tarian meliputi gong, kendang, dan seruling bambu, yang menghasilkan melodi khas Bumi Sulawesi.

Sejarah tradisi ini dapat ditelusuri kembali ke abad ke-16, ketika kerajaan Marusu sedang mengalami masa kejayaan. Katto Bokko awalnya berfungsi sebagai sarana memperkuat solidaritas antar‑suku dan menandai peristiwa penting seperti penyambutan raja baru atau perayaan panen. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini sempat mengalami penurunan karena urbanisasi dan perubahan gaya hidup, namun kini kembali bangkit berkat inisiatif aktif Kekaraengan Marusu.

Berikut rangkaian program yang diluncurkan oleh Kekaraengan Marusu untuk memastikan keberlangsungan Katto Bokko:

  • Pelatihan Intensif: Sekolah budaya dibuka bagi anak‑anak sekolah menengah di wilayah Maros. Kurikulum mencakup teknik tari, pemahaman musik tradisional, serta sejarah Katto Bokko.
  • Pertunjukan Rutin: Setiap bulan pertama, keraton menyelenggarakan pertunjukan terbuka bagi masyarakat umum, yang menampilkan kelompok tari Katto Bokko yang telah terlatih.
  • Kolaborasi Seni: Kerjasama dengan seniman kontemporer untuk menciptakan varian modern Katto Bokko, sehingga tradisi tetap relevan di era digital.
  • Dokumentasi Digital: Pembuatan arsip video dan foto beresolusi tinggi yang disimpan dalam perpustakaan digital kerajaan, tersedia bagi peneliti dan publik.

Data kehadiran peserta dalam program pelatihan selama satu tahun terakhir tercermin dalam tabel berikut:

Bulan Jumlah Peserta
Januari 45
Februari 38
Maret 52
April 47
Mei 50

Selain upaya internal, Kekaraengan Marusu juga mengundang dukungan dari pemerintah daerah dan lembaga kebudayaan. Bantuan dana dan fasilitas publik membantu memperluas jangkauan program, khususnya dalam penyediaan ruang latihan dan perlengkapan tradisional.

Para tokoh masyarakat menilai bahwa pelestarian Katto Bokko tidak hanya penting bagi identitas budaya Maros, tetapi juga berpotensi meningkatkan pariwisata budaya. Dengan menampilkan pertunjukan pada festival regional, tradisi ini dapat menarik wisatawan domestik maupun mancanegara, sekaligus menumbuhkan ekonomi kreatif di sekitar keraton.

Ke depan, Kekaraengan Marusu berencana memperluas jaringan kerjasama dengan universitas serta lembaga kebudayaan internasional untuk melakukan pertukaran budaya. Diharapkan, Katto Bokko tidak hanya tetap hidup di tanah Sulawesi Selatan, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya dunia yang diakui UNESCO.