KDM Pilih Bangun Masjid Kecil di Perkampungan untuk Mengembalikan Esensi Keagamaan
KDM Pilih Bangun Masjid Kecil di Perkampungan untuk Mengembalikan Esensi Keagamaan

KDM Pilih Bangun Masjid Kecil di Perkampungan untuk Mengembalikan Esensi Keagamaan

LintasWarganet.com – 20 Juni 2026 | Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan prioritas baru dalam agenda pembangunan daerah, yaitu fokus pada pembangunan masjid kecil berarsitektur tradisional, khususnya tipe tajug, di wilayah perkampungan. Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat rasa kebersamaan, identitas keagamaan, serta menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual yang sering terpinggirkan dalam pembangunan modern.

Beberapa poin utama dalam program ini meliputi:

  • Lokasi strategis: Pemilihan lokasi di tengah-tengah perkampungan agar mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat.
  • Desain tradisional: Menggunakan arsitektur tajug yang kental dengan nilai sejarah dan estetika lokal, sekaligus mengurangi biaya konstruksi.
  • Anggaran berkelanjutan: Pendanaan dibagi antara pemerintah provinsi, dana CSR perusahaan, dan kontribusi sukarela warga.
  • Pemberdayaan masyarakat: Melibatkan penduduk setempat dalam proses pembangunan, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan, untuk menumbuhkan rasa memiliki.
  • Fasilitas pendukung: Menyediakan ruang kelas, perpustakaan mini, serta area serbaguna untuk kegiatan edukatif dan sosial.

Program ini dijadwalkan akan dimulai pada kuartal pertama 2027 dengan target penyelesaian tiga puluh masjid kecil dalam dua tahun pertama. Pemerintah provinsi juga berencana melakukan monitoring rutin untuk memastikan kualitas bangunan serta efektivitas penggunaan fasilitas.

Reaksi masyarakat pun beragam. Sebagian warga menyambut baik inisiatif ini sebagai langkah konkret untuk mengembalikan nuansa keagamaan dalam kehidupan sehari-hari, sementara pihak lain menyoroti pentingnya keseimbangan antara pembangunan infrastruktur modern dan pelestarian nilai tradisional.

Secara keseluruhan, kebijakan KDM ini mencerminkan upaya pemerintah Jawa Barat untuk menyesuaikan pembangunan dengan kebutuhan spiritual dan sosial masyarakat, sekaligus memperkuat identitas budaya lokal melalui arsitektur masjid tradisional.