Katto Bokko, Tradisi Panen Khas Maros yang Dijaga Turun‑Temurun
Katto Bokko, Tradisi Panen Khas Maros yang Dijaga Turun‑Temurun

Katto Bokko, Tradisi Panen Khas Maros yang Dijaga Turun‑Temurun

LintasWarganet.com – 05 April 2026 | Katto Bokko merupakan tradisi panen perdana yang dilaksanakan oleh masyarakat petani di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Setiap tahun, setelah musim tanam berakhir dan hasil padi pertama siap dipanen, warga menggelar rangkaian upacara adat yang sekaligus menjadi bentuk rasa syukur atas berkat alam.

Asal‑usul Katto Bokko dapat ditelusuri hingga masa kerajaan Bugis-Makassar, ketika para petani mempersembahkan hasil panen pertama kepada leluhur dan dewa‑dewi pertanian. Secara harfiah, “Katto” berarti “panen” dan “Bokko” berarti “pertama”. Tradisi ini kemudian diwariskan secara lisan dan dipraktekkan secara turun‑temurun oleh generasi‑generasi petani di wilayah Maros.

Rangkaian upacara Katto Bokko meliputi beberapa tahapan penting:

  • Penyiapan lahan dan padi pertama: Petani menyiapkan lahan khusus dan menanam padi varietas lokal yang dianggap memiliki nilai simbolik.
  • Penyembelihan hewan kurban: Sebuah kambing atau kerbau dipersembahkan sebagai simbol pengorbanan kepada roh‑roh pelindung.
  • Doa bersama: Tokoh adat, pemuka agama, dan kepala desa memimpin doa memohon kelimpahan dan melindungi hasil panen selanjutnya.
  • Tarik suku: Seluruh warga berpartisipasi dalam tarian tradisional yang diiringi musik gong, kendang, dan serunai.
  • Jamuan bersama: Hasil panen pertama dibagikan dalam jamuan rakyat, memperkuat rasa kebersamaan.

Selain menjadi ajang syukur, Katto Bokko berperan penting dalam memperkuat identitas budaya setempat. Upacara ini menjadi media edukasi bagi generasi muda tentang nilai‑nilai agraris, kearifan lokal, serta pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan. Para tetua adat secara aktif mengajarkan prosesi kepada pelajar dan warga baru yang belum familiar dengan tradisi tersebut.

Namun, tradisi Katto Bokko kini menghadapi tantangan. Urbanisasi, perubahan pola hidup, serta kurangnya minat generasi muda dapat mengancam kelangsungan upacara. Untuk mengatasinya, pemerintah Kabupaten Maros bekerja sama dengan lembaga kebudayaan dan universitas setempat mengadakan program pelestarian, seperti workshop tari, dokumentasi video, dan festival budaya yang menampilkan Katto Bokko kepada wisatawan domestik maupun internasional.

Dengan dukungan komunitas dan upaya pelestarian yang terstruktur, diharapkan Katto Bokko tetap menjadi warisan budaya yang hidup, menghubungkan masa lalu agraris dengan masa depan yang lebih berkelanjutan.