Kasus Bayi Nyaris Tertukar di RSHS Bandung Pecah, Ibu Tuntut DNA Test & Rekaman CCTV Setelah Suster Langgar SOP
Kasus Bayi Nyaris Tertukar di RSHS Bandung Pecah, Ibu Tuntut DNA Test & Rekaman CCTV Setelah Suster Langgar SOP

Kasus Bayi Nyaris Tertukar di RSHS Bandung Pecah, Ibu Tuntut DNA Test & Rekaman CCTV Setelah Suster Langgar SOP

LintasWarganet.com – 01 Mei 2026 | Ruang Staf dan Humas Rumah Sakit Harapan Sehat (RSHS) Bandung kembali menjadi sorotan publik setelah terungkapnya sebuah insiden mengkhawatirkan di bangsal bersalin. Seorang ibu melaporkan bahwa bayinya hampir tertukar dengan bayi lain pada saat keluar dari ruang perawatan intensif. Menurut keterangan yang dihimpun, ibu tersebut menuntut dilakukan tes DNA serta akses penuh ke rekaman CCTV rumah sakit untuk memastikan identitas bayinya.

Latar Belakang Insiden

Pada malam 27 Maret 2024, seorang ibu bernama Siti (nama samaran) melahirkan anak pertamanya di RSHS Bandung. Sesuai prosedur standar, bayi ditempatkan di ruang perawatan intensif (NICU) untuk observasi selama beberapa jam pertama. Ketika petugas mengantar bayi ke ruangan ibu, terjadi kebingungan di antara staf, sehingga muncul dugaan bahwa dua bayi dapat tertukar.

Tuntutan Ibu dan Prosedur DNA

Siti mengaku merasa cemas setelah melihat perbedaan ciri fisik pada bayinya. Ia kemudian meminta pihak rumah sakit untuk melakukan tes DNA guna memastikan keaslian bayi tersebut. Permintaan ini sempat ditolak oleh pihak administrasi rumah sakit dengan alasan prosedur yang memakan waktu dan biaya tambahan. Namun, setelah tekanan media sosial yang meningkat, RSHS Bandung akhirnya menyetujui tes DNA dengan biaya ditanggung rumah sakit.

Pengungkapan Pelanggaran SOP oleh Suster

Investigasi internal yang dipicu oleh permintaan akses CCTV mengungkap bahwa seorang suster, yang tidak disebutkan namanya demi privasi, melanggar prosedur operasional standar (SOP) dalam proses pemindahan bayi. Suster tersebut tidak mencatat nomor identitas bayi secara lengkap, serta gagal mengonfirmasi nama ibu secara verbal sebelum menyerahkan bayi.

Berikut rangkaian langkah yang seharusnya diikuti menurut SOP RSHS:

  • Verifikasi identitas bayi dengan gelang berlabel yang terhubung ke sistem elektronik.
  • Konfirmasi nama ibu dan nomor rekam medis secara lisan.
  • Dokumentasi penyerahan bayi dalam log buku atau aplikasi digital.
  • Pengecekan ulang oleh petugas lain sebelum bayi keluar dari NICU.

Catatan CCTV menunjukkan bahwa suster tersebut melewatkan langkah ke-2 dan ke-3, sehingga menciptakan celah yang memungkinkan terjadinya pertukaran bayi.

Reaksi Rumah Sakit dan Tindakan Korektif

Manajemen RSHS Bandung mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan penyesalan atas kejadian tersebut dan berjanji akan meningkatkan pengawasan. Rumah sakit menambahkan bahwa seluruh staf yang terlibat akan menjalani pelatihan ulang mengenai prosedur keamanan bayi. Selain itu, rumah sakit berkomitmen untuk menyediakan akses penuh terhadap rekaman CCTV selama 30 hari terakhir kepada pihak berwenang dan keluarga yang bersangkutan.

Untuk menanggapi tuntutan hukum, RSHS Bandung telah mengirimkan laporan lengkap kepada Komisi Pengawas Rumah Sakit (KPRS) serta kepolisian setempat. Pihak kepolisian kini tengah menyelidiki apakah terdapat unsur kelalaian yang dapat dikenakan sanksi pidana.

Dampak Terhadap Kepercayaan Publik

Kasus ini memicu perdebatan luas mengenai standar keamanan di fasilitas kesehatan Indonesia. Beberapa pakar kesehatan menilai bahwa selain pelanggaran SOP, masih diperlukan audit independen secara periodik untuk memastikan kepatuhan. Di sisi lain, organisasi advokasi konsumen menuntut regulasi yang lebih ketat terkait akses rekaman CCTV rumah sakit, mengingat data visual dapat menjadi bukti penting dalam kasus serupa.

Langkah Selanjutnya bagi Keluarga

Siti kini menunggu hasil tes DNA yang diperkirakan selesai dalam dua minggu ke depan. Jika hasil menunjukkan bahwa bayinya memang bayi yang ia lahirkan, ia berharap kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi rumah sakit lain. Namun, bila terdapat perbedaan, Siti siap menempuh jalur hukum untuk menuntut ganti rugi dan tindakan korektif yang lebih tegas.

Kasus bayi nyaris tertukar di RSHS Bandung menjadi contoh nyata pentingnya penerapan SOP yang ketat, transparansi data, dan akuntabilitas petugas medis. Masyarakat berharap agar insiden serupa tidak terulang, dan rumah sakit di seluruh Indonesia dapat meningkatkan standar keamanan demi melindungi nyawa dan identitas bayi yang paling rentan.